Rabu, 21 November 2018 09:55

​28 Penderita Gangguan Jiwa di Blitar Masih Terpasung

Jumat, 20 Oktober 2017 17:02 WIB
Wartawan: Akina Nur Alana
​28 Penderita Gangguan Jiwa di Blitar Masih Terpasung
Penanganan pasien gangguan jiwa di Kabupaten Blitar.

BLITAR, BANGSAONLINE.com - Terbentur proses pembebasan pasung yang sangat panjang, sebanyak 28 pasien dengan gangguan jiwa di Kabupaten Blitar masih terpasung.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Blitar Krisna Yekti menjelaskan, proses pembebasan pasung tersebut membutuhkan waktu dan proses yang panjang karena proses pembebasan pasung di Kabupaten Blitar berbasis masyarakat. 

Dalam arti proses pembebasan pasung difasilitasi Dinkes namun dari kemauan keluarga pasien terlebih dahulu. "Keluarga menjadi kunci utama pengobatan penderita gangguan jiwa. Jadi keluarga memang harus sudah siap secara fisik dan mental," ujar Khrisna kepada wartawan, Jumat (20/10).

Khrisna menjelaskan, meski harus melewati proses yang cukup panjang, jumlah penderita gangguan jiwa yang dipasung sudah menurun. Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Blitar sebenarnya di tahun 2017 tercatat sejak Januari hingga Oktober, ada 155 penderita gangguan jiwa yang dipasung. Namun dengan berbagai upaya yang dilakukan Dinkes, bisa memangkas hingga tinggal menyisakan 28  penderita gangguan jiwa.

"Dari 28 itu, targetnya tahun ini semua bisa kita bebaskan, meskipun proses pembebasan itu tidak semudah yang dibayangkan. Karena setiap kali melakukan pembebasan terhadap penderita gangguan jiwa pasti ada kendala," tuturnya.

Walaupun masih dalam kondisi terpasung, Krisna menyatakan, pihaknya secara kontinyu tetap memberikan pengobatan dan perawatan. Untuk pasien penderita gangguan jiwa yang mengalami penyakit penyerta akan dirujuk ke RSJ, namun untuk pasien gangguan jiwa yang tidak memiliki penyakit penyerta cukup dirawat dirumah dengan pengawasan ketat dari Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM). Serta pemberian obat secara rutin oleh Puskesmas setempat.

"Kami rutin datangi. Kami obati, kami lepaskan pasungnya, dimandikan, dipotong rambutnya. Sayangnya, keluarganya masih menghendaki dia kembali dipasung karena dinilai masih membahayakan, dan keluarga menyatakan tidak mampu menangani jika pasungnya dilepas, " jelas Krisna.

Mereka yang bebas pasung murni diberi pelatihan ketrampilan. Agar lebih produktif dan mempunyai penghasilan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. "Sudah bangak juga yang sudah terampil dan malah bisa bikin usaha sendiri," pungkasnya. (blt1/tri/ian)

Rabu, 14 November 2018 00:10 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*SUASANA khusuk menyelimuti Jumat malam 9 November 2018 di lorong-lorong kampung, di ruas-ruas musholla, di beranda-beranda langgar, di ruang-ruang masjid, surau ataupun gardu desa. Rakyat membaca doa dengan selingan renungan tent...
Senin, 19 November 2018 11:17 WIB
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   Waja’alnaa allayla waalnnahaara aayatayni famahawnaa aayata allayli waja’alnaa aayata alnnahaari mubshiratan litabtaghuu fadhlan min rabbikum walita’lamuu ‘adada alssiniina waalhisaaba...
Sabtu, 10 November 2018 10:00 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Selasa, 06 November 2018 22:28 WIB
MADIUN, BANGSAONLINE.com - Dua tahun terakhir Kabupaten Madiun mendapatkan penghargaan Anugerah Wisata Tingkat Provinsi Jawa Timur. Pertama anugerah wisata buatan terbaik provinsi diraih Taman Wisata Madiun Umbul Square tahun 2017, menyusul kemudian ...