Senin, 20 Mei 2019 20:45

​28 Penderita Gangguan Jiwa di Blitar Masih Terpasung

Jumat, 20 Oktober 2017 17:02 WIB
Wartawan: Akina Nur Alana
​28 Penderita Gangguan Jiwa di Blitar Masih Terpasung
Penanganan pasien gangguan jiwa di Kabupaten Blitar.

BLITAR, BANGSAONLINE.com - Terbentur proses pembebasan pasung yang sangat panjang, sebanyak 28 pasien dengan gangguan jiwa di Kabupaten Blitar masih terpasung.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Blitar Krisna Yekti menjelaskan, proses pembebasan pasung tersebut membutuhkan waktu dan proses yang panjang karena proses pembebasan pasung di Kabupaten Blitar berbasis masyarakat. 

Dalam arti proses pembebasan pasung difasilitasi Dinkes namun dari kemauan keluarga pasien terlebih dahulu. "Keluarga menjadi kunci utama pengobatan penderita gangguan jiwa. Jadi keluarga memang harus sudah siap secara fisik dan mental," ujar Khrisna kepada wartawan, Jumat (20/10).

Khrisna menjelaskan, meski harus melewati proses yang cukup panjang, jumlah penderita gangguan jiwa yang dipasung sudah menurun. Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Blitar sebenarnya di tahun 2017 tercatat sejak Januari hingga Oktober, ada 155 penderita gangguan jiwa yang dipasung. Namun dengan berbagai upaya yang dilakukan Dinkes, bisa memangkas hingga tinggal menyisakan 28  penderita gangguan jiwa.

"Dari 28 itu, targetnya tahun ini semua bisa kita bebaskan, meskipun proses pembebasan itu tidak semudah yang dibayangkan. Karena setiap kali melakukan pembebasan terhadap penderita gangguan jiwa pasti ada kendala," tuturnya.

Walaupun masih dalam kondisi terpasung, Krisna menyatakan, pihaknya secara kontinyu tetap memberikan pengobatan dan perawatan. Untuk pasien penderita gangguan jiwa yang mengalami penyakit penyerta akan dirujuk ke RSJ, namun untuk pasien gangguan jiwa yang tidak memiliki penyakit penyerta cukup dirawat dirumah dengan pengawasan ketat dari Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM). Serta pemberian obat secara rutin oleh Puskesmas setempat.

"Kami rutin datangi. Kami obati, kami lepaskan pasungnya, dimandikan, dipotong rambutnya. Sayangnya, keluarganya masih menghendaki dia kembali dipasung karena dinilai masih membahayakan, dan keluarga menyatakan tidak mampu menangani jika pasungnya dilepas, " jelas Krisna.

Mereka yang bebas pasung murni diberi pelatihan ketrampilan. Agar lebih produktif dan mempunyai penghasilan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. "Sudah bangak juga yang sudah terampil dan malah bisa bikin usaha sendiri," pungkasnya. (blt1/tri/ian)

Bandeng Jelak Khas Kota Pasuruan yang Tinggi Protein, Yuk Makan Ikan!
Minggu, 28 April 2019 01:01 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Kali ini Shania Indira Putri, Duta Gemarikan Kota Pasuruan, melihat lebih dekat bagaimana proses pemanenan ikan Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan. Sekali panen, ikan ini air tawar ini bisa menghasilkan 600 hingga 120...
Selasa, 26 Maret 2019 21:54 WIB
MADIUN, BANGSAONLINE.com - KAI Daop 7 ajak beberapa wartawan wilayah Madiun, mulai dari wartawan cetak, online, dan televisi, ke tempat bangunan bersejarah Lawang Sewu dan Stasiun Ambarawa, Selasa (26/3). Kegiatan ini dilakukan selama dua hari (25-26...
Suparto Wijoyo
Jumat, 17 Mei 2019 00:26 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*RAMADHAN memang penuh segalanya secara apik, termasuk berderet karunia dengan segenap undangan berbuka puasa secara bersama-sama. Ini sangat fenomenal bagi saya yang sejak semula berpuasa bukan untuk meminimalisir perbelanjaan...
Sabtu, 18 Mei 2019 12:13 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag41. Walaqad sharrafnaa fii haadzaa alqur-aani liyadzdzakkaruu wamaa yaziiduhum illaa nufuuraanDan sungguh, dalam Al-Qur'an ini telah Kami (jelaskan) berulang-ulang (peringatan), agar mereka selalu ingat. Tetapi (p...
Dr. KH. Imam Ghazali Said
Jumat, 17 Mei 2019 16:44 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...