Selasa, 16 Juli 2019 16:10

​28 Penderita Gangguan Jiwa di Blitar Masih Terpasung

Jumat, 20 Oktober 2017 17:02 WIB
Wartawan: Akina Nur Alana
​28 Penderita Gangguan Jiwa di Blitar Masih Terpasung
Penanganan pasien gangguan jiwa di Kabupaten Blitar.

BLITAR, BANGSAONLINE.com - Terbentur proses pembebasan pasung yang sangat panjang, sebanyak 28 pasien dengan gangguan jiwa di Kabupaten Blitar masih terpasung.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Blitar Krisna Yekti menjelaskan, proses pembebasan pasung tersebut membutuhkan waktu dan proses yang panjang karena proses pembebasan pasung di Kabupaten Blitar berbasis masyarakat. 

Dalam arti proses pembebasan pasung difasilitasi Dinkes namun dari kemauan keluarga pasien terlebih dahulu. "Keluarga menjadi kunci utama pengobatan penderita gangguan jiwa. Jadi keluarga memang harus sudah siap secara fisik dan mental," ujar Khrisna kepada wartawan, Jumat (20/10).

Khrisna menjelaskan, meski harus melewati proses yang cukup panjang, jumlah penderita gangguan jiwa yang dipasung sudah menurun. Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Blitar sebenarnya di tahun 2017 tercatat sejak Januari hingga Oktober, ada 155 penderita gangguan jiwa yang dipasung. Namun dengan berbagai upaya yang dilakukan Dinkes, bisa memangkas hingga tinggal menyisakan 28  penderita gangguan jiwa.

"Dari 28 itu, targetnya tahun ini semua bisa kita bebaskan, meskipun proses pembebasan itu tidak semudah yang dibayangkan. Karena setiap kali melakukan pembebasan terhadap penderita gangguan jiwa pasti ada kendala," tuturnya.

Walaupun masih dalam kondisi terpasung, Krisna menyatakan, pihaknya secara kontinyu tetap memberikan pengobatan dan perawatan. Untuk pasien penderita gangguan jiwa yang mengalami penyakit penyerta akan dirujuk ke RSJ, namun untuk pasien gangguan jiwa yang tidak memiliki penyakit penyerta cukup dirawat dirumah dengan pengawasan ketat dari Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM). Serta pemberian obat secara rutin oleh Puskesmas setempat.

"Kami rutin datangi. Kami obati, kami lepaskan pasungnya, dimandikan, dipotong rambutnya. Sayangnya, keluarganya masih menghendaki dia kembali dipasung karena dinilai masih membahayakan, dan keluarga menyatakan tidak mampu menangani jika pasungnya dilepas, " jelas Krisna.

Mereka yang bebas pasung murni diberi pelatihan ketrampilan. Agar lebih produktif dan mempunyai penghasilan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. "Sudah bangak juga yang sudah terampil dan malah bisa bikin usaha sendiri," pungkasnya. (blt1/tri/ian)

Kamis, 11 Juli 2019 16:29 WIB
YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com - Siapa pun pasti tersenyum membaca nama tempat wisata ini. Maklum, identik alat vital wanita: “Tempik Gundul” yang artinya alat vital wanita tanpa bulu. Apalagi tulisan yang beredar di media sosial (medsos) juga d...
Minggu, 14 Juli 2019 13:13 WIB
Oleh: Dr. KH. M. Cholil NafisBaru saja, Kamis (12/7) saya berpartisipasi dalam kegiatan Bussiness Matching The 1st Pasific Exposition yang berlangsung pada 11 s.d. 14 Juli 2019 di Auckland, Selandia Baru.Pacific Exposition merupakan salah satu kontri...
Sabtu, 06 Juli 2019 15:08 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag57. Ulaa-ika alladziina yad’uuna yabtaghuuna ilaa rabbihimu alwasiilata ayyuhum aqrabu wayarjuuna rahmatahu wayakhaafuuna ‘adzaabahu inna ‘adzaaba rabbika kaana mahtsuuraanOrang-orang yang mereka seru itu, ...
Sabtu, 29 Juni 2019 14:36 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...