Minggu, 19 Agustus 2018 10:52

​12 Tahun Derita Hydrochepalus, Nur Rokhim hanya Bisa Tiduran

Jumat, 20 Oktober 2017 03:10 WIB
Wartawan: Hendro Utomo
​12 Tahun Derita Hydrochepalus, Nur Rokhim hanya Bisa Tiduran

MADIUN, BANGSAONLINE.com - Nur Rokhim (13), bocah asal Dukuh Prati, Desa Klumutan, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun ini sehari-harinya hanya bisa tiduran. Pasalnya, anak ketiga dari pasangan Siswanto (53) dan Daminah (48) ini menderita penyakit hydrochepalus sejak usia 1,5 tahun. 

"Anak saya lahir normal seperti anak-anak umumnya. Bahkan usia 1,5 tahun sudah bisa jalan dan sangat lucu. Kemudian, suatu hari badannya tiba-tiba panas dan kejang. Kemudian kita bawa ke Panti Waloyo Caruban, kemudian dirujuk ke Madiun rumah sakit dr Soedono dan dirujuk ke Surabaya Rumah Sakit Dokter Soetomo. Selang 40 hari baru diketahui penyakitnya," ujar Daminah.

Pasca sakit itu, badan Nur Rokhim kemudian semakin kurus. Sehari-harinya ia hanya bisa tidurkan di lantai tanah beralaskan tikar. Kondisi ini semakin memprihatinkan karena tikar tersebut harus diolesi kapur anti semut.

"Jika tidak, sering dikerumuti semut di bagian mata dan telinga karena mungkin banyak cairan," ujar Daminah, ibu Nur Rokhim.

Orang tua Nur Rokhim sendiri memang tergolong kurang mampu, Siswanto kerjanya hanya buruh tani dan terkadang keliling mencari rosok kadang. Sedangkan Daminah tidak bisa bekerja karena harus menemani Nur Rokhim.

Untuk membelikan Nur Rokhim susu saja, Siswanto dan Daminah mengaku kesulitan. "Biasanya cuma saya kasih teh. Penghasilan kami hanya Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per hari. Hampir setiap bulan Nur harus dirawat di Rumah Sakit dan saya tidak bisa bekerja jika Nur dirawat di Rumah Sakit,” ujar Siswanto.

Sementara Kepala Desa Klumutan, Agus Proklamanto, mengaku sudah berupaya agar keluarga Siswanto mendapatkan bantuan untuk meringankan bebannya. Saat ini mereka sudah mendapatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS), Program Keluarga Harapan, dan juga bantuan sosial dari desa berupa uang.

“Sebenarnya Pemkab Madiun sudah mengetahui masalah Nur Rokhim saat Bakti Sosial Terpadu (BST) tahun 2012. Saat itu Pemkab sudah menawarkan untuk dibawa ke rumah sakit, tapi pihak keluarga tidak mau dengan alasan yang tidak kita ketahui,” ujar Agus. (hen/rev)

Sabtu, 11 Agustus 2018 16:43 WIB
Oleh: Ach. Taufiqil Aziz*Sekitar jam 17.00, pada 9 Agustus 2018, kami sekeluarga masih menonton stasiun televisi tentang pengumuman Cawapres Jokowi. Di televisi, beberapa stasiun dan pengamat sudah menganalisa bahwa Mahfud MD (MMD) yang akan menjadi ...
Kamis, 16 Agustus 2018 17:26 WIB
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   In ahsantum ahsantum li-anfusikum wa-in asa'tum falahaa fa-idzaa jaa-a wa’du al-aakhirati liyasuu-uu wujuuhakum waliyadkhuluu almasjida kamaa dakhaluuhu awwala marratin waliyutabbiruu maa ‘al...
Dr. KH. Imam Ghazali Said
Sabtu, 18 Agustus 2018 10:03 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Rabu, 08 Agustus 2018 10:41 WIB
TUBAN, BANGSAONLINE.com - Asosiasi Wisata Gua Indonesia (Astaga) dan Mahasiswa Pecinta Alam (Mahipal) Unirow Tuban akhirnya memaparkan data pemetaan gua di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Data tersebut dikeluarkan setelah tim me...