Pelatihan Militer untuk Sipil Dinilai Tak Relevan, Peneliti Sebut Upaya Persempit Pikiran Kritis

SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Kematian seorang siswa Komponen Cadangan (Komcad) Aparatur Sipil Negara (ASN) Gelombang 2 di Pusdikkes Puskesad setelah terjatuh saat gladi penutupan menuai kritik dari peneliti militer senior Made Supriatma.

Made melontarkan kritik terhadap kebijakan yang mewajibkan ASN mengikuti pelatihan militer. Ia mempertanyakan relevansi dan urgensi pelatihan tersebut bagi pegawai negeri di tengah perkembangan pola pertahanan global.

"Sampai kapan? Mengapa hanya untuk menjadi pegawai negara, orang harus menjalani pelatihan militer? Apakah tidak cukup satu juta lebih tentara di negeri ini? Setengah juta polisi bersenjata? Jutaan paramiliter seperti Hansip atau Wanra?" tegas Made dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).

Dalam kritiknya, Made menilai sistem pertahanan saat ini tidak lagi hanya mengandalkan kemampuan baris-berbaris maupun kekuatan fisik. 

Menurut dia, penguasaan teknologi, inovasi, kemampuan pemrograman, dan kebebasan berpikir juga menjadi bagian penting dalam menghadapi konflik modern, seperti yang terlihat di Ukraina.

Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi membatasi ruang gerak anak muda dan menghambat bakat-bakat potensial yang seharusnya dapat berkembang di bidang lain.

Made berpandangan, kekuatan suatu negara juga ditopang oleh masyarakat sipil yang produktif, mampu mengembangkan usaha, menggerakkan perekonomian, serta membayar pajak. Menurut dia, kondisi tersebut tidak semestinya digantikan dengan upaya memiliterisasi kelompok yang berperan dalam menciptakan kemakmuran.

Ia juga menyoroti risiko penerapan disiplin kadaver yang dimaknai sebagai kepatuhan total tanpa memberikan ruang bagi masyarakat sipil untuk berpikir secara kritis.

Di akhir pernyataannya, Made Supriatma mendesak agar pelatihan militer bagi kalangan sipil yang dinilainya tidak esensial dihentikan. Ia juga menyoroti adanya korban jiwa dalam pelaksanaan pelatihan tersebut serta mengingatkan agar masa depan talenta sipil tidak dikorbankan demi pendekatan militeristik.

"Jangan bunuh para pencipta kemakmuran hanya untuk menegakkan rejim militeristik! Sudah berapa orang terbunuh hanya karena mereka harus menjalani pelatihan militer. Sampai kapan?" pungkasnya.