BANGSAONLINE.com - Karhutla atau kebakaran hutan dan lahan masih menjadi bencana yang kerap melanda berbagai wilayah di Indonesia. Selain mengganggu kesehatan, karhutla menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat.
Api dapat merusak ekosistem, menghilangkan tutupan vegetasi, serta mengancam keanekaragaman hayati dengan menghancurkan habitat satwa dan tumbuhan. Kondisi ini juga meningkatkan risiko erosi dan menurunkan fungsi hutan sebagai daerah tangkapan air.
Kerusakan vegetasi dan lahan gambut akibat karhutla mengganggu siklus hidrologi. Tanah kehilangan kemampuan menyerap air, aliran permukaan meningkat, dan kualitas perairan menurun akibat sedimentasi.
Dampak tersebut berpengaruh pada ekosistem perairan dan organisme yang bergantung pada kualitas air.
Di sisi ekonomi, karhutla menyebabkan kerugian besar. Hasil hutan, lahan produktif, dan sumber penghasilan masyarakat berkurang. Petani kehilangan pendapatan, sementara aktivitas beternak, berladang, berburu, dan menangkap ikan ikut terganggu.
Transportasi juga terdampak ketika asap pekat mengurangi jarak pandang di jalur darat, laut, maupun udara. Bahkan, kegiatan pendidikan pernah diliburkan di daerah terdampak karena kualitas udara memburuk.
Selain kerugian langsung, karhutla menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar, terutama dari lahan gambut. Emisi ini berkontribusi terhadap perubahan iklim global.
Pemerintah pun harus mengalokasikan sumber daya untuk pemadaman, pemulihan lingkungan, dan penanganan sosial ekonomi. Pencegahan melalui pemantauan, pengelolaan lahan, dan kesiapsiagaan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko dan kerugian. (rom)










