Ringkasan Berita
- Mahfud MD memperingatkan Prabowo agar tidak menyepelekan tren penurunan kepercayaan publik, yang dapat menjadi persoalan serius jika ingin maju kembali di Pilpres.
- Mahfud mengutip empat lembaga survei (SMRC, Indikator Politik, Jayadi Hanan, dan Tempo) yang menunjukkan hasil serupa, sehingga pemerintah tidak boleh mengabaikannya.
- Menurut Mahfud, enam bulan pertama masih dimaklumi publik, namun jika tidak ada perkembangan positif, tingkat kepercayaan dapat semakin tertekan.
- Mahfud menyebut persaingan politik ke depan tidak hanya melibatkan satu kelompok, dan kandidat lain berpotensi mengambil posisi yang lebih kuat jika persepsi publik tidak diperbaiki.
SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Mantan Menko Polhukam Mahfud MD mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar tidak menganggap remeh tren penurunan kepercayaan publik terhadap pemerintahannya.
Mahfud menilai kondisi tersebut dapat menjadi persoalan serius jika Prabowo berniat kembali maju dalam Pilpres mendatang.
Menurut Mahfud, persaingan politik ke depan tidak hanya melibatkan satu kelompok atau kandidat.
Karena itu, penurunan elektabilitas dan persepsi publik terhadap Prabowo perlu segera menjadi perhatian sebelum kandidat lain berpeluang mengambil posisi yang lebih kuat.
"Jangan terlalu percaya diri, terlalu polos. Itu yang bikin dia selalu kalah di masa lalu karena terlalu menyepelekan terhadap survei," kata Mahfud melalui kanal YouTube miliknya, Rabu (2/9/2026).
Peringatan tersebut disampaikan Mahfud setelah mencermati sejumlah hasil survei yang menurutnya menunjukkan pola serupa. Ia meyakini hasil survei tersebut mencerminkan perubahan persepsi masyarakat terhadap pemerintahan Prabowo.
"Saya percaya survei itu benar karena empat lembaga survei mengatakan hal yang sama. Dan angkanya mirip-mirip, terkecuali soal dukungan parpol," ujarnya.
Mahfud menyebut sejumlah lembaga yang mencatat tren tersebut, di antaranya Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Indikator Politik Indonesia yang dipimpin Burhanuddin Muhtadi, lembaga survei yang dipimpin Jayadi Hanan, serta survei Tempo. Menurut Mahfud, kesamaan arah hasil survei tersebut membuat pemerintah seharusnya tidak mengabaikannya.
Ia mengatakan masyarakat pada enam bulan pertama pemerintahan masih cenderung memberikan ruang bagi Prabowo untuk bekerja. Berbagai persoalan yang muncul pada periode tersebut masih dapat dimaklumi karena publik memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk menunjukkan hasil.
Namun, situasi dapat berubah jika waktu terus berjalan tanpa perkembangan positif yang benar-benar dirasakan masyarakat. Mahfud menilai kondisi tersebut dapat membuat tingkat kepercayaan publik semakin tertekan.
Karena itu, Mahfud meminta Prabowo memperhatikan perubahan persepsi masyarakat, terutama jika Presiden ke-8 RI tersebut berniat mencalonkan diri kembali. Menurut dia, hak politik untuk maju dalam Pilpres tetap berada di tangan Prabowo.
"Kalau Prabowo ingin mencalonkan lagi sebagai presiden ini harus diperhatikan," ujar Mahfud.
Mahfud kemudian menyinggung potensi munculnya kandidat lain dalam persaingan politik mendatang.
Ia menyebut popularitas Dedi Mulyadi mungkin lebih mudah dihadapi karena masih berada dalam lingkaran Gerindra, tetapi kandidat dari kelompok lain dapat menjadi ancaman yang berbeda.
"Mungkin untuk (popularitas) Dedi Mulyadi bisa diredam karena sama-sama Gerindra, tapi calon-calon lain kan bisa menyalip," katanya.
Dia menyebut, persoalannya bukan semata-mata mengenai siapa yang menjadi pesaing Prabowo.
Hal yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah membaca perubahan persepsi publik sebelum momentum politik berikutnya tiba.
Menurut Mahfud, tren survei yang terus menurun seharusnya menjadi alarm bagi Prabowo untuk mengevaluasi kinerja pemerintahannya. (van)










