Ringkasan Berita
- Konsumsi minuman manis berlebihan (seperti soda dan minuman berenergi) dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker lambung hingga 2,45 kali lipat, terutama pada perempuan yang risikonya meningkat sekitar tiga kali lipat.
- Penelitian observasional terhadap 112.284 orang menunjukkan hubungan antara asupan fruktosa tinggi dari minuman berpemanis dengan peningkatan risiko kanker lambung, meski tidak membuktikan hubungan sebab akibat.
- Selain minuman manis, faktor risiko kanker lambung meliputi infeksi bakteri H. pylori, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, usia, dan pola makan tertentu.
- Mengurangi konsumsi minuman manis secara bertahap dengan menggantinya air putih atau teh tanpa gula dapat menjadi langkah pencegahan sederhana untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan.
- Anak-anak termasuk kelompok yang perlu diwaspadai karena mudah mengakses dan sering mengonsumsi minuman berpemanis dalam kehidupan sehari-hari.
SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Kanker lambung kini mengintai siapa saja yang memiliki kebiasaan yang satu ini.
Penelitian mengungkapkan, salah satu pemicunya adalah kebiasaan mengonsumsi kebiasaan minuman manis secara berlebihan. Khususnya anak-anak.
Minuman seperti soda, minuman berenergi, dan minuman dengan tambahan gula mudah ditemukan serta kerap dikonsumsi sehari-hari.
Namun, konsumsi secara berlebihan perlu diperhatikan karena penelitian terbaru menemukan adanya hubungan antara kebiasaan tersebut dan peningkatan risiko kanker lambung.
Dilansir dari EatingWell pada Jumat, 28 Agustus 2026, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Gastro Hep Advances melibatkan 112.284 orang yang dipantau dalam jangka panjang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi sedikitnya satu minuman manis setiap hari memiliki risiko kanker lambung sekitar 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang jarang mengonsumsinya.
Peningkatan risiko tersebut terlihat pada laki-laki maupun perempuan. Pada perempuan, risikonya meningkat sekitar tiga kali lipat, sedangkan pada laki-laki hampir dua kali lipat.
Para peneliti juga meneliti kandungan fruktosa yang banyak terdapat dalam minuman berpemanis. Asupan fruktosa yang lebih tinggi ditemukan berkaitan dengan peningkatan risiko kanker lambung, terutama pada kelompok perempuan.
Meski demikian, hasil penelitian tersebut tidak berarti bahwa konsumsi soda setiap hari pasti menyebabkan kanker lambung. Penelitian ini bersifat observasional sehingga hanya menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan mengonsumsi minuman manis dan risiko kanker, bukan membuktikan hubungan sebab akibat.
Selain konsumsi minuman manis, kanker lambung memiliki sejumlah faktor risiko lain. Infeksi bakteri Helicobacter pylori atau H. pylori, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol secara berlebihan, usia, serta pola makan tertentu juga dapat meningkatkan risiko.
Karena itu, mengurangi konsumsi minuman manis dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk menjaga kesehatan. Air putih atau teh tanpa gula dapat menjadi pilihan pengganti, terutama bagi orang yang terbiasa mengonsumsi minuman berpemanis setiap hari.
Membatasi konsumsi minuman manis juga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan secara keseluruhan.
Kebiasaan tersebut dapat dilakukan secara bertahap, misalnya dengan mengurangi satu porsi minuman manis setiap hari dan menggantinya dengan minuman tanpa tambahan gula.




