SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Peneliti menemukan mekanisme molekuler yang menghubungkan trauma masa kecil dengan meningkatnya kerentanan terhadap depresi dan kecemasan saat dewasa.
Temuan tersebut merupakan hasil penelitian ilmuwan WashU Medicine dan Princeton University yang dipublikasikan dalam jurnal Neuron. Hasil riset itu kemudian disiarkan melalui laman SciTechDaily.
Penelitian menunjukkan pengalaman traumatis pada masa kanak-kanak dapat meninggalkan perubahan kimiawi pada neuron penghasil dopamin di otak. Salah satu perubahan yang ditemukan berkaitan dengan tanda molekuler H3K4me1 yang memengaruhi cara DNA dikemas di dalam sel.
Stres berat pada masa perkembangan diketahui dapat meningkatkan aktivitas enzim SETD7.
Kondisi tersebut membuat struktur DNA menjadi lebih terbuka sehingga gen yang berkaitan dengan respons terhadap stres lebih mudah aktif ketika seseorang menghadapi tekanan pada masa dewasa.
Peneliti juga menemukan bahwa paparan empat atau lebih pengalaman traumatis pada masa kanak-kanak berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan mental, termasuk depresi dan kecemasan, ketika dewasa. Fenomena trauma masa kecil sendiri dilaporkan dialami oleh lebih dari separuh anak di dunia.
Dalam penelitian tersebut, peneliti menurunkan aktivitas enzim SETD7 untuk mengubah kembali struktur DNA pada neuron dopamin. Percobaan itu menunjukkan adanya pemulihan respons kecemasan menuju kondisi normal.
Peneliti Meaghan Creed PhD menyebut trauma perkembangan dapat meninggalkan perubahan biologis pada sel otak. Perubahan tersebut membuat otak menjadi lebih sensitif terhadap tekanan yang muncul di kemudian hari.
Temuan ini sekaligus membuka peluang pengembangan terapi yang menargetkan perubahan biologis akibat trauma.
Dengan memahami mekanisme tersebut, peneliti berharap dapat mengembangkan pendekatan pengobatan yang lebih tepat bagi gangguan mental yang berkaitan dengan trauma masa kecil.
Di sisi lain, Catherine Jensen Peña PhD menekankan pentingnya dukungan sosial dan lingkungan yang aman sejak usia dini. Pengasuhan yang hangat dinilai dapat membantu membangun ketahanan anak terhadap stres.
Para peneliti menilai lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang memiliki peran penting dalam menjaga perkembangan dan kesehatan otak anak. Perlindungan sejak dini diharapkan dapat mengurangi kerentanan terhadap depresi dan kecemasan pada masa mendatang.
Penelitian ini memberikan gambaran bahwa dampak trauma masa kecil tidak hanya berkaitan dengan pengalaman psikologis, tetapi juga dapat tercermin dalam perubahan biologis di tingkat sel otak. Temuan tersebut menjadi dasar bagi penelitian lanjutan mengenai terapi yang dapat memulihkan perubahan akibat trauma.




