SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Silent struggle merupakan kondisi ketika seseorang menghadapi tekanan, persoalan, atau kesulitan secara diam-diam tanpa banyak menceritakan apa yang dialaminya kepada orang lain.
Kondisi tersebut dapat terjadi karena seseorang belum siap untuk bercerita atau khawatir masalah yang dihadapinya justru akan membebani orang-orang terdekat.
Dalam kehidupan sehari-hari, silent struggle dapat dialami siapa saja, termasuk pelajar dan anak muda. Tekanan di sekolah, persoalan pertemanan dan keluarga, tuntutan prestasi, hingga kekhawatiran mengenai masa depan dapat membuat seseorang merasa kewalahan meski dari luar terlihat baik-baik saja.
Orang yang mengalami silent struggle belum tentu memperlihatkan tanda-tanda yang mudah dikenali oleh lingkungan sekitarnya. Mereka masih dapat bersekolah, bekerja, bercanda bersama teman, aktif di media sosial, dan menjalankan rutinitas seperti biasa.
Keputusan untuk diam salah satunya dapat dipengaruhi kekhawatiran terhadap penilaian atau respons orang lain.
Seseorang mungkin takut dianggap lemah, terlalu sensitif, mencari perhatian, atau khawatir persoalannya tidak dipahami.
Kehadiran media sosial juga membuat kondisi tersebut semakin sulit dikenali. Unggahan di media sosial tidak selalu mencerminkan keadaan seseorang secara utuh karena apa yang terlihat di layar umumnya hanya bagian kehidupan yang ingin dibagikan.
Temuan Mental Health Foundation menunjukkan masih banyak anak muda yang kesulitan membicarakan persoalan emosional kepada orang lain. Riset terhadap 2.522 anak muda berusia 16 hingga 25 tahun menemukan hanya 54 persen yang mampu membicarakan emosinya.
Karena itu, penting membangun kebiasaan untuk saling memperhatikan tanpa terburu-buru memberikan penilaian kepada orang yang sedang menghadapi kesulitan. Pertanyaan sederhana seperti “Kamu baik-baik saja?” atau “Kalau mau cerita, aku siap mendengarkan” dapat menjadi bentuk kepedulian yang berarti.
Meski demikian, seseorang tidak perlu memaksakan diri untuk langsung menceritakan seluruh persoalannya ketika belum merasa siap atau aman untuk berbicara.
Berbicara secara perlahan kepada orang yang dipercaya, seperti orang tua, guru, sahabat, atau orang dewasa tepercaya, dapat menjadi salah satu langkah untuk menghadapi persoalan yang sedang dialami.
Pada akhirnya, silent struggle mengingatkan bahwa tidak semua perjuangan seseorang dapat terlihat dari luar. Kepekaan terhadap kondisi orang lain, keberanian meminta bantuan, dan terciptanya ruang yang aman untuk bercerita menjadi hal penting untuk menjaga kesejahteraan bersama.




