Air Waduk Pondok Ngawi Menyusut, Warga Manfaatkan Tepian Waduk Jadi Lahan Pertanian Musiman

NGAWI, BANGSAONLINE.com - Fenomena menyusutnya debit air Waduk Pondok di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, setiap musim kemarau menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar. Warga memanfaatkan kawasan surutan di tepian waduk untuk disulap menjadi lahan pertanian produktif.

Pemandangan tersebut tampak di wilayah Desa Dampit dan Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin. Lahan yang sebelumnya tenggelam oleh genangan air waduk kini diolah warga untuk ditanami beragam jenis tanaman pangan dan hortikultura, mulai dari padi, jagung, tembakau, hingga kacang tanah.

Salah seorang petani lokal, Suwarno (47), menuturkan bahwa praktik mengolah lahan surutan waduk ini telah berlangsung secara turun-temurun. Setiap kali memasuki musim kemarau dan air mulai surut, area daratan baru tersebut langsung dimanfaatkan warga.

“Kalau musim kemarau seperti ini, lahan yang ada di tepian waduk bisa dimanfaatkan untuk menanam. Biasanya kami tanam padi atau jagung,” jelas Suwarno.

Ia menjelaskan, siklus olah tanah ini umumnya dimulai dari bulan Juli hingga Oktober, seiring dengan puncak musim kemarau. Namun demikian, para petani tetap dibayangi ancaman kerugian jika musim hujan tiba lebih awal sehingga debit air naik secara mendadak.

“Kalau sudah masuk musim hujan dan air waduk naik, tanaman bisa terendam dan akhirnya gagal panen. Itu tentu membuat petani mengalami kerugian,” katanya.

Suwarno menambahkan, kondisi geografis Kecamatan Bringin yang didominasi kawasan perbukitan dan bebatuan membuat ketersediaan lahan pertanian sangat terbatas. Oleh sebab itu, munculnya daratan musiman di pinggir waduk menjadi kesempatan berharga bagi warga untuk menambah penghasilan.

“Di sekitar sini banyak daerah perbukitan dan batu, jadi memang sulit untuk pertanian. Ketika air waduk surut, lahan di pinggir waduk bisa menjadi kesempatan bagi warga untuk bertani,” ujarnya.

Tercatat sedikitnya ada empat desa di Kecamatan Bringin yang warganya rutin menggarap lahan di tepian Waduk Pondok saat kemarau, yaitu Desa Dampit, Desa Surung, Desa Kenongorejo, dan Desa Gandong.

Pada kondisi biasa, mayoritas warga setempat mengandalkan lahan bagem milik Perhutani di kawasan hutan untuk bercocok tanam jagung. Karena itu, surutnya air Waduk Pondok saat kemarau disambut sebagai alternatif penopang ekonomi keluarga.

Meski begitu, para petani menyadari penuh risiko yang dihadapi dan harus cermat memperhitungkan prakiraan cuaca agar hasil tanam mereka tidak tersapu luapan air waduk.