Mengapa Orang Suka Flexing? Ini Penjelasan Psikologi dan Neurosains di Baliknya

SURABAYA,BANGSAONLINE.com

Fenomena memamerkan kekayaan, mobil mewah, barang bermerek, hingga pencapaian pribadi di media sosial atau yang dikenal sebagai flexing semakin marak dan kerap menuai respons negatif dari masyarakat.

Dari sudut pandang psikologi dan sains, perilaku tersebut memiliki alasan yang berkaitan dengan kebutuhan emosional seseorang.

Dokter umum sekaligus hipnoterapis klinis bersertifikat, dr. Yuliana, CHt®, menjelaskan bahwa flexing pada dasarnya bukan merupakan gangguan atau kelainan psikologis.

Namun, pada sebagian individu, kebiasaan memamerkan harta maupun gaya hidup secara berulang dilakukan sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.

Melalui unggahan di akun media sosialnya (@dr.yuliana.cht), dr. Yuliana menjelaskan bahwa dari perspektif neuroscience, otak akan melepaskan hormon dopamin ketika seseorang menerima pujian, perhatian, atau banyak tanda suka (likes) di media sosial.

Pelepasan dopamin tersebut memberi sinyal kepada otak bahwa perilaku itu berhasil sehingga memunculkan dorongan untuk terus mengulanginya dan menjadikan validasi dari orang lain sebagai bentuk apresiasi yang ingin terus diperoleh.

Menurut dr. Yuliana, dorongan emosional tersebut umumnya berakar dari pengalaman masa kecil dan pola pengasuhan.

Anak cenderung belajar dari apa yang dilihat dalam lingkungan keluarganya.

Apabila orang tua sering membanggakan status, kekuasaan, atau kemewahan, anak dapat menyerap pemahaman bahwa nilai diri seseorang ditentukan oleh kepemilikan materi.

Pola pengasuhan seperti itu berpotensi membentuk core belief atau keyakinan dasar yang kurang sehat ketika anak beranjak dewasa.

Mereka dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya baru dianggap berharga apabila dikagumi orang lain, harus terlihat lebih unggul, serta tidak boleh kalah sehingga terus mengejar pengakuan eksternal untuk mengisi kekosongan emosional.

Meski demikian, dr. Yuliana menegaskan tidak semua orang yang gemar membagikan pencapaian di media sosial memiliki luka batin atau kebutuhan validasi yang berlebihan.

Sebagian orang melakukannya semata-mata untuk membagikan hasil kerja keras, memberikan inspirasi, atau membangun personal branding demi kepentingan profesional.

Menurutnya, perbedaan utama terletak pada motivasi yang mendasari tindakan tersebut.

Untuk mencegah anak tumbuh bergantung pada pengakuan dari orang lain, peran orang tua dalam membentuk persepsi nilai diri anak menjadi sangat penting.

Orang tua diimbau tidak membuat anak merasa dirinya baru bernilai ketika meraih prestasi, memperoleh pujian, atau memiliki benda tertentu.

Sebaliknya, anak perlu dididik agar memiliki keyakinan bahwa dirinya tetap berharga tanpa harus membuktikan apa pun kepada lingkungan sekitar.

Anak yang tumbuh dengan rasa percaya diri dan penerimaan diri yang baik tidak akan merasa perlu terus-menerus mengejar validasi maupun pengakuan dari orang lain.