Ditanya Rais Syuriah PCNU di Yogya, Siapa Rais 'Aam, Kiai Asep Jawab: Kiai Nurul Huda, Ini Alasannya

YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com – Acara silaturahim para Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Yogyakarta dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Yogyakarta sepakat mengusulkan KH Asep Saifuddin Chalim dan KH Ubaidillah Shodaqoh sebagai anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada 27 – 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang Jawa Timur.

Acara silaturahim PWNU dan PCNU se-Yogyakarta itu digelar di kediaman KH Mas’ud Masduki, Rais Syuriah PWNU Yogyakarta, di Pondok Pesantren Ar-Robithoh Krapyak Lor Sleman Yogyakarta, Senin (20/7/2026) siang.

“Jadi kita sepakat untuk Ahwa, Kiai Asep dan Kiai Ubaid. Kiai Asep ini satu-satunya putra pendiri NU yang masih hidup,” ujar Kiai Mas’ud Masduki di akhir acara silaturahim bersama PCNU se-Yogyakarta.

Kiai Ubaidillah Shodaqoh adalah Rais PWNU Jawa Tengah. Kiai Ubaid - panggilaran akrab Kiai Ubaidillah Shodaqoh - juga dikenal pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen, Kelurahan Telogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang.

Pantauan BANGSAONLINE di lokasi, PCNU se-Yogyakarta itu hadir lengkap. Yakni PCNU Sleman, Bantul, Gunugkidul, Kulon Progo, dan Kota Yogyakarta.

Dalam acara silaturahim yang dimoderatori Dr H Muhajir, MSi itu Kiai Asep memaparkan tentang sejarah NU. Menurut dia, dalam sejarahnya, NU selalu berperan signifikan dan memberikan solusi terhadap persoalan bangsa.

“Mulai dari perjuangan kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, dan juga dalam kasus PKI di Madiun, NU selalu di depan dan berperan,” ujar Kiai Asep.

Bahkan, menurut Kiai Asep, ketika negara Indonesia mengalami dilema ideologis, pada 1984 NU juga tampil memberikan solusi melalui penerimaan asas tunggal Pancasila dalam Muktamar ke-27 NU di Situbondo.

Namun, tegas Kiai Asep, sekarang NU mengalami kemunduran peran stategis. Alih-alih NU berperan, untuk menyelesaikan konflik internal saja sekarang NU tak bisa. Konflik antara Rais ’Aam Syuriah PBNU KH Miftakhul Achyar dan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) telah menyebabkan NU dibulying banyak pihak. Termasuk orang di luar NU.

Bahkan Kiai Miftachul Akhyar dan Gus Yahya kemudian menciptakan kubu-kubu yang semakin merusak marwah NU.

Mendengar pemaparan Kiai Asep itu, Drs KH Damanhuri, Rais Syuriah Bantul melontarkan pertanyaan kepada Kiai Asep.

“Menurut Kiai Asep, kira-kira siapa yang pantas atau layak untuk Rais Aam yang akan datang,” ujar Kiai Damanhuri sembari mengemukakan sejumlah syarat seperti kealiman ilmu agama, integritas, termasuk menjaga muruah.

Kiai Asep langsung menjawab.

“Kiai Nurul Huda,” tegasnya spontan.

Yang dimaksud Kiai Nurul Huda adalah Kiai Nurul Huda Djazuli atau Gus Da, pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri Jawa Timur.

Menurut Kiai Asep, Gus Da memenuhi syarat-syarat sebagai Rais Aam. Antara lain berilmu, bijaksana, punya integritas, mampu menjaga marwah NU dan sudah selesai secara finansial atau ekonomi.

“Cara berpikir beliau masih sangat jernih. Kalau Kiai Nurul Huda Rais ‘Aam saya siap mendampingi,” tegas pendiri dan pengasuh tiga Pondok Pesantren Amanatul Ummah, di Surabaya, di Pacet Mojokerto Jawa Timur dan juga di Leuwimunding Majalengka Jawa Barat itu.

Menurut Kiai Asep, dari segi muruah Kiai Nurul Huda sangat terjaga karena tak mungkin ingin jadi komisaris atau jabatan bersifat duniawi lainnya.

Kiai Asep juga mengatakan, jika Kiai Nurul Huda jadi Rais ‘Aam juga tak perlu selalu ngantor di kantor PBNU Jakarta. Yang penting bisa memberi arahan kepada PBNU, terutama Ketua Umum PBNU dan jajaran yang lain.

“Karena itu sekarang kita tak cukup hanya mencari Rais ‘Aam tapi juga harus mencari Ketua Umum PBNU yang bisa dikendalikan. Kalau Ketua Umum PBNU tak bisa dikendalikan nanti seperti sekarang lagi,” ujar Kiai Asep yang merupakan putra KH Abdul Chalim, salah seorang kiai pendiri NU dan pahlawan nasional Republik Indonesia.

Kiai Damanhuri kembali menimpali. Ia mengaku setuju dengan Gus Da sebagai calon Rais ‘Aam. Tapi, tegas dia, harus ada calon alternatif lain.

“Siapa alternatif lainnya?” tanya Kiai Damanhuri lagi.

“Kiai Ma’ruf Amin,” jawab Kiai Asep.

“Masak Kiai Ma’ruf Amin masih mau jadi komisaris. Kan sudah pernah jadi wapres,” ujar Kiai Asep sembari tertawa.

Kiai Damanhuri kembali bertanya. Terutama terkait aturan yang mengganjal Kiai Ma'ruf Amin. Aturan itu mensyaratkan calon Rais Aam Syuriah dan Ketua Umum PBNU harus mengundurkan diri dari partai politik dalam tenggang waktu minimal sudah satu tahun.

"Kan 'iddahnya belum selesai," ujar Kiai Damanhuri.

"Ya itu masalah lagi," ujar Kiai Asep.

Intinya, menurut Kiai Asep, seorang Rais ‘Aam harus figur ulama yang tidak lagi berorientasi terhadap finansial, ekonomi atau duniawi.

“Yang sudah selesai dengan dirinya sendiri,” ujarnya.

Lalu bagaimana dengan Rais ‘Aam yang sekarang, KH Miftachul Akhyar?

Seorang Rais Syuriah dalam acara silaturahim itu mengaku pernah mendapat curhat (curahan hati) dari Kiai Miftakhul Akhyar.

“Kiai Miftah pernah menyampaikan kepada saya, beliau bilang: saya telah gagal (sebagai Rais ‘Aam),” kata kiai tersebut menirukan pengakuan Kiai Miftachul Akhyar.

Sementara untuk calon ketua umum PBNU yang akan datang, KH Chasan Abdullah, Wakil Ketua PWNU Yogyakarta minta Kiai Mas’ud Masduki selaku Rais Syuriah PWNU Yogyakarta mempelopori  forum diskusi dengan PWNU lainnya.  

Seperti diberitakan BANGSAONLINE, dukungan terhadap Asep makin masif. Pantauan BANGSAONLINE di berbagai provinsi, nama Kiai Asep tidak hanya dicantumkan sebagai calon anggota Ahwa oleh PWNU dan PCNU di daerah Jawa tapi juga di luar Jawa. Kini ratusan PCNU dan PWNU mengusulkan nama Kiai Asep Saifuddin Chalim sebagai calon anggota Ahwa bersama kiai-kiai kharismatik lainnya.

Tren ini merupakan perkembangan dari kesepakatan 27 PCNU dan PWNU Jawa Barat yang mengusulkan Kiai Asep Saifuddin Chalim sebagai anggota Ahwa dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang pada 27 - 31 Agustus 2026 mendatang.

Yang menarik, tren ini tidak hanya merebak di daerah Jawa seperti Jawa Barat, Yogya, Jawa Tengah dan Jawa Timur tapi juga di luar Jawa. Dalam pertemuan bertajuk Silaturahim PWNU & PCNU se-Kalimantan Barat misalnya, nama Kiai Asep juga disebut sebagai calon anggota Ahwa bersama para kiai NU kharismatik lainnya.

Dalam acara itu seorang kiai membacakan daftar nama kiai yang akan dicatat sebagai calon anggota Ahwa dari PWNU dan PCNU se-Kalimantan Barat. Nama-nama kiai calon aggota Ahwa itu akan disetor ke panitia Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.

Nama-nama yang disebut dalam acara Silaturahim PWNU & PCNU se-Kalimantan Barat itu adalah KH Kafabih Mahrus (Lirboyo), KH Nurul Huda Djazuli (Ploso), KH Mustofa Bisri (Gus Mus), KH Ma’ruf Amin, KH Said Aqil Siroj.

“Kamudian Kiai Asep, pengasuh Amanatul Ummah,” ujar kiai yang membacakan daftar nama calon anggota Ahwa tersebut.

Para peserta silaturahim PWNU dan PCNU se-Kalimantan Barat itu langsung setuju semua.

“O nggih,” ujar mereka kompak.

Kiai yang membacakan daftar nama calon Ahwa itu kemudian meneruskan dengan menyebut nama-nama kiai dari Sumatera dan kiai-kiai lainnya.

Rencananya Kiai Asep juga akan bersilaturahim dengan para Rais Syuriah Kalimantan Barat itu. "Ya insyaallah Pak Yai Asep akan silaturahim. Kita sedang membagi waktu karena minggu-minggu ini masih banyak jadwal di Jawa," ujar M. Mas'ud Adnan yang mendampingi Kiai Asep Saifuddin Chalim, Sabtu (18/7/2026).

Tidak hanya di Kalimantan Barat. Nama Kiai Asep juga masif di Kalimantan Tengah (Kalteng).

“Insyaallah PWNU dan PCNU se-Kalteng sama juga,” ujar Ketua PCNU Palangka Raya KH Muhammad Syahrun kepada BANGSAONLINE.

Ia bahkan menunjukkan surat rekomendasi PCNU Palangka Raya yang menempatkan nama Kiai Asep Saifuddin Chalim sebagai calon anggota Ahwa nomor 1. Surat rekomendasi PCNU itu ditandatangani Rais Syuriah, Katib Syuriah dan Ketua Tanfidziah serta Sekretaris Tanfidziah PCNU.

Nama Kiai Asep Saifuddin Chalim memang kian masif sebagai calon anggota Ahwa. Sebelumnya, 27 PCNU dan PWNU Jawa Barat menempatkan Kiai Asep sebagai calon anggota Ahwa bersama Kiai Said Aqil Siroj. Kemudian PCNU-PCNU dan PWNU Banten juga menempatkan Kiai Asep sebagai calon anggota Ahwa.

Rais Syuriah PCNU Lombok Tengah Tuan Guru Ma’arif Makmun juga menempatkan Kiai Asep sebagai calon anggota Ahwa.

“Ya, kami memang mendukung Pak Kiai Asep untuk anggota Ahwa. Bahkan kami mendukung Kiai Asep sebagai calon Rais ‘Aam Syuriah PBNU. Kami sedang menunggu kehadiran beliau di NTB,” ujar Tuan Guru Ma’arif yang juga pengasuh Pondok Pesantren Manhalul Ma'arif, Desa Darek, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) kepada BANGSAONLINE.

PWNU dan PCNU-PCNU di Aceh juga telah sepakat memasukkan nama Kiai Asep sebagai salah satu kiai calon Ahwa. Begitu juga PCNU-PCNU dan PWNU Sumatera Selatan dan Jambi serta PWNU provinsi lainnya.