Ringkasan Berita
- Fenomena putih di perbukitan Ciwidey bukan salju, melainkan embun upas (frost) yang terbentuk dari embun membeku di permukaan saat suhu ekstrem dingin.
- BMKG menyebut embun upas terjadi pada puncak musim kemarau di dataran tinggi, saat suhu bisa turun drastis hingga mendekati 0°C pada malam dan dini hari.
- Suhu dingin ekstrem ini dipengaruhi minimnya tutupan awan dan angin monsun Australia yang membawa udara dingin dari musim dingin di sana.
- Fenomena serupa pernah terjadi di dataran tinggi lain seperti Pangalengan dan merupakan kejadian wajar di wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa pada musim kemarau.
- BMKG mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tidak menyebarkan informasi yang keliru terkait fenomena ini.
BANGSAONLINE.com - Viral di media sosial sebuah video yang memperlihatkan kawasan perbukitan di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, diselimuti lapisan putih. Banyak warganet menduga lapisan tersebut adalah salju karena jalan setapak dan vegetasi tampak memutih.
BMKG menegaskan, dugaan itu tidak benar. Fenomena yang terjadi merupakan embun upas atau frost yang lazim muncul di dataran tinggi saat puncak musim kemarau.
“Pada puncak musim kemarau, suhu udara di dataran tinggi Bandung dapat turun drastis hingga belasan derajat Celsius, bahkan mendekati 0 derajat Celsius pada malam hingga dini hari,” kata Plt Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Edi Wibowo, Minggu (12/7/2026).
Embun upas terbentuk dari embun yang membeku di permukaan tanah, daun, maupun benda lain sehingga membentuk kristal es tipis. BMKG menegaskan, embun upas berbeda dengan salju, karena salju terbentuk dari uap air di awan yang membeku sebelum jatuh ke permukaan bumi.
Fenomena serupa juga pernah terjadi di kawasan dataran tinggi lain seperti Pangalengan. BMKG menjelaskan, suhu dingin saat kemarau dipengaruhi minimnya tutupan awan.
Pada siang hari, permukaan bumi menyerap panas matahari secara maksimal, namun pada malam hari panas cepat dilepaskan kembali ke atmosfer sehingga suhu turun drastis. Kondisi ini diperkuat oleh angin monsun Australia yang membawa massa udara dingin ke Indonesia.
“Penyebab tambahan mengapa suhu udara menjadi dingin pada musim kemarau adalah karena adanya musim dingin di wilayah Australia,” ucap Edi.
Disampaikan pula bahwa BMKG meminta masyarakat agar tidak panik maupun menyebarkan informasi keliru.
“Suhu dingin pada musim kemarau merupakan fenomena wajar, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa,” pungkasnya. (rom)










