Harga Ekspor dan Impor RI Kompak Naik pada Kuartal I 2026, Logam Jadi Pendorong Utama

Harga Ekspor dan Impor RI Kompak Naik pada Kuartal I 2026, Logam Jadi Pendorong Utama Ilustrasi

JAKARTA,BANGSAONLINE.com - Badan Pusat Statistik () mencatat harga ekspor dan impor Indonesia sama-sama mengalami kenaikan pada kuartal I 2026, dengan komoditas berbasis logam dan mineral menjadi penyumbang utama penguatan harga perdagangan internasional.

Kenaikan tersebut tercermin dari Indeks Harga (IHX) dan Indeks Harga (IHM) yang meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.

Dalam rilis Perkembangan Indeks Harga Perdagangan Internasional Triwulan I-2026 yang dipublikasikan pada 2 Juni 2026, melaporkan IHX umum naik 9,06 persen secara kuartalan (q-to-q), sedangkan IHM umum meningkat 8,95 persen dibandingkan kuartal IV-2025.

Secara tahunan, IHX tercatat tumbuh 13,71 persen dibandingkan kuartal I-2025, sementara IHM meningkat 9,97 persen secara tahunan (y-on-y).

Data tersebut menunjukkan harga berbagai komoditas yang diperdagangkan Indonesia di pasar global mengalami penguatan pada awal tahun, baik untuk barang ekspor maupun impor.

Harga ekspor melesat lebih dari 9 persen

mencatat Indeks Harga umum pada kuartal I-2026 mencapai 121,85, naik dari 111,73 pada kuartal IV-2025 atau meningkat 9,06 persen secara kuartalan.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, indeks harga ekspor meningkat 13,71 persen dari level 107,16.

Kenaikan harga ekspor terjadi pada kelompok migas maupun nonmigas. Untuk kelompok migas, indeks harga ekspor naik 10,84 persen secara kuartalan dari 84,33 menjadi 93,47.

Secara tahunan, kelompok migas juga mencatat kenaikan sebesar 4,08 persen.

Sementara itu, indeks harga ekspor nonmigas meningkat 8,97 persen secara kuartalan, dari 113,56 pada kuartal IV-2025 menjadi 123,75 pada kuartal I-2026.

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kenaikan harga ekspor nonmigas mencapai 14,25 persen.

Berdasarkan data , kenaikan harga ekspor terutama ditopang komoditas berbasis mineral dan logam.

Golongan barang dengan kenaikan harga tertinggi secara kuartalan adalah bijih logam, terak, dan abu (HS 26) yang melonjak 68,33 persen.

Selanjutnya, timah dan barang daripadanya (HS 80) naik 30,58 persen, tembaga dan barang daripadanya (HS 74) meningkat 24,48 persen, nikel dan barang daripadanya (HS 75) tumbuh 20,36 persen, serta logam mulia dan perhiasan atau permata (HS 71) naik 17,86 persen.

Di sisi lain, terdapat tiga kelompok komoditas yang mengalami penurunan harga ekspor pada kuartal I-2026.

Penurunan terdalam terjadi pada kakao dan olahannya (HS 18) sebesar 6,05 persen, diikuti berbagai produk kimia (HS 38) sebesar 1,72 persen dan pakaian serta aksesorinya berbahan rajutan (HS 61) sebesar 0,34 persen.

Komoditas logam dominasi kenaikan tahunan

Secara tahunan, komoditas berbasis logam juga menjadi motor utama kenaikan harga ekspor.

Harga ekspor bijih logam, terak, dan abu meningkat 65,61 persen dibandingkan kuartal I-2025.

Kenaikan signifikan juga terjadi pada logam mulia dan perhiasan atau permata yang melonjak 63,34 persen.

Selain itu, harga ekspor timah dan barang daripadanya meningkat 59,69 persen, tembaga dan barang daripadanya naik 50,45 persen, sedangkan bahan anyaman nabati tumbuh 35,29 persen.

Sementara itu, beberapa komoditas mencatat penurunan harga secara tahunan.

Penurunan terdalam terjadi pada kakao dan olahannya yang turun 32,51 persen.

Kemudian, bahan kimia anorganik turun 16,07 persen, kopi, teh, dan rempah-rempah turun 4,37 persen, susu, mentega, telur, serta produk hewani lainnya turun 2,19 persen, dan serat stapel buatan turun 0,59 persen.

juga mencatat sejumlah komoditas memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi harga ekspor pada kuartal I-2026.

Kelompok barang yang dominan menyumbang kenaikan IHX antara lain bijih logam, terak, dan abu (HS 26), bahan bakar mineral dan produk hasil penyulingannya (HS 27), besi dan baja (HS 72), logam mulia dan perhiasan atau permata (HS 71), serta mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya (HS 85).

Bijih logam, terak, dan abu menjadi penyumbang terbesar inflasi harga ekspor secara kuartalan dengan andil 2,73 persen.

Sementara itu, bahan bakar mineral dan produk hasil penyulingannya memberikan kontribusi sebesar 1,22 persen.

Harga impor ikut menguat

Selain ekspor, harga barang impor yang masuk ke Indonesia juga mengalami kenaikan pada kuartal I-2026.

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO