“Kami memastikan seluruh jemaah mendapatkan pendampingan secara langsung, mulai dari proses check-in hingga keberangkatan. Negara hadir untuk memberikan perlindungan, terutama bagi jemaah yang menghadapi kendala penerbangan,” ujar Ilham, Kamis (5/3/2026).
Meski mayoritas jemaah telah kembali sesuai jadwal, berdasarkan data per 3 Maret 2026 terdapat 300 jemaah yang mengalami keterlambatan penerbangan (stranded). Jemaah tersebut tersebar di Kota Jeddah dan Makkah, dengan kendala utama pada jadwal penerbangan lanjutan serta koordinasi visa dan penerbangan transit.
Menanggapi hal tersebut, KJRI Jeddah melakukan sejumlah langkah konkret yakni berkoordinasi berkelanjutan dengan maskapai penerbangan untuk memastikan kepastian jadwal keberangkatan, memastikan penyediaan konsumsi dan kebutuhan dasar bagi jemaah yang masih menunggu penerbangan, berkoordinasi dengan pihak travel dan penanggung jawab visa guna mempercepat penyelesaian administrasi, dan melakukan pemantauan secara bergiliran selama 24 jam untuk mengantisipasi potensi penumpukan jemaah.
Ilham menambahkan, meskipun jumlah jemaah yang tertahan cukup signifikan, namun seluruh kondisi dapat ditangani secara koordinatif dan terkendali.










