Aguk Irawan MN. Foto: ist
Syekh az-Zarqani dalam Manahil al-Irfan membedah ishlāh ke dalam sepuluh dimensi—mulai dari akidah hingga politik (siyasah). Ini menarik. Persatuan ternyata tidak berdiri di ruang hampa. Ia butuh perbaikan akal (tahrir al-uquul). Tanpa akal yang merdeka dan jernih, persatuan hanya akan menjadi mobilisasi massa yang buta.
Nurcholish Madjid pernah mengingatkan bahwa islam, iman, dan ihsan adalah satu bangunan yang utuh. Tak ada iman tanpa cinta, dan tak ada cinta tanpa upaya menebarkan perdamaian (salam). Maka, ishlāh sebenarnya adalah konsekuensi logis dari orang yang mengaku beriman. Jika kau beriman, kau memperbaiki. Jika kau merusak, barangkali ada yang retak dalam imanmu.
Membaca At-Tibyan di tengah hiruk-pikuk NU hari ini adalah sebuah ajakan untuk pulang. Pulang ke sebuah kesadaran bahwa "kemaslahatan" (mashlahah) bukanlah tentang siapa yang mendapatkan apa, melainkan tentang bagaimana bangunan ini tidak runtuh karena rayap-rayap perpecahan.
Mungkin kita perlu berhenti sejenak dari perdebatan struktur dan kembali ke etimologi dasar itu: bahwa menjadi saleh berarti menjadi "baik" dan "memperbaiki". Karena pada akhirnya, seperti yang disiratkan Hadratussyaikh, agama ini bukan hanya tentang bagaimana kita bersujud kepada Tuhan, tapi bagaimana kita tidak saling menginjak saat berdiri bersama di hadapan-Nya.
Persatuan itu sunyi, tapi perpecahan selalu berisik. Dan di dalam kitab At-Tibyan, kesunyian yang mempersatukan itu masih menunggu untuk dibaca kembali.
Wallahu'alam bishwab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




