Anggota DPD RI Dapil Jatim, Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, saat bersama Menteri PPPA, Arifah Fauzi.
"Upaya ini, bukan hanya tentang nostalgia, tetapi tentang menyelamatkan generasi dari krisis karakter akibat ketergantungan digital," tuturnya.
Sebelumnya, Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menjelaskan bahwa tingginya angka kekerasan pada anak saat ini dipengaruhi lima faktor utama yakni tekanan ekonomi, pola asuh, media sosial, lingkungan, dan maraknya pernikahan usia anak.
Penggunaan gawai tanpa pendampingan dianggap menjadi pemicu signifikan, karena berdampak pada fisik, mental, kemampuan sosial-akademik, hingga keterlibatan anak dalam kasus kekerasan.
“Dari kasus yang kami tangani langsung, 90 persen kekerasan yang melibatkan anak dipicu penggunaan media sosial yang tidak bijaksana dan minim pengawasan. Anak tidak bisa hanya dilarang bermain gawai. Kita butuh solusi yang menghadirkan interaksi nyata, nilai kebersamaan, dan pembentukan karakter. Permainan tradisional memiliki filosofi kuat, ada kejujuran, kedisiplinan, sportivitas, dan kerja sama,” urai Arifah.
Sebagai langkah konkret, Kementerian PPPA berencana menyediakan ruang permainan tradisional berbasis kearifan lokal hingga berkolaborasi dengan Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI).
Inisiatif ini akan diperluas ke seluruh provinsi agar anak-anak memiliki ruang sosial alternatif yang sehat di luar gawai.
“Kami Kemen PPPA juga tengah mengupayakan pembentukan Museum Permainan Tradisional sebagai bentuk pelestarian budaya nasional,” kata Arifah. (mdr/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




