“Kull nafs dza’iqah al-maut”. Setiap ciptaan yang hidup pasti akan berakhir kematian. Nafs, artinya diri, jiwa, awak-awakan (Jawa), atau semakna dengan itu. Kata “nafs” bisa idlafah secara umum, bisa kepada makhluq berakal, tidak berakal bahkan dengan Tuhan, Allah SWT.
Tapi pada ayat ini, konteknya khusus untuk makhluq hidup dan tidak berlaku untuk Tuhan. Justeru Tuhan-lah yang mencipta kematian (maut) tersebut, sehingga dia pasti tunduk dan patuh secara mutlak kepada-Nya.
Maut itu “remote” Tuhan yang super canggih dan selalu ada di “tangan-Nya”. Siapa saja tersasar “remote-Nya”, pasti maut.
Jika seseorang bertanya: “Kapan remote itu mengarah ke diri kita..?”. Jawabannya: “Seperti televisi yang sedang “on”, dia tidak mengerti kapan diremote mati, off, oleh penggunanya”.










