TUBAN, BANGSAONLINE.com - Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiah Langitan, yang berada di Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban sejak seminggu terakhir ini ramai didatangi santri dadakan. Ratusan anak-anak kecil mulai usia 10-25 tahun itu ingin mengenyam pendidikan di Ponpes itu khususnya pada Bulan Suci Ramadhan.
Seperti biasa, pada Bulan Suci Ramadhan, Pondok yang berada di utara Bengawan Solo yang melintas di wilayah Widang-Babat itu selalu menggelar pengajian kitab kuning untuk umum. Sehingga, banyak anak-anak, pemuda, orang tua yang datang untuk menimba ilmu pada bulan mulia.
Menurut salah satu pengurus Ponpes setempat, Muslih, jika para santri yang datang itu merupakan santri baru atau santri kilatan. Dinamakan kilatan karena mereka hanya mengikuti pengajian selama Bulan Suci Ramadan saja.
"Kilatan itu berasal dari kata kilat, yang diartikan cepat. Jadi mereka yang ngaji Ramadhan kita namakan ngaji kilatan," ujarnya.
Setiap tahunnya, jumlah santri di Ponpes itu terus meningkat, baik santri yang menetap maupun santri kilatan pada Bulan Suci Ramadhan. Hingga kemarin, pendaftar dari berbagai daerah di Jawa Timur mencapai 500 santri lebih yang ingin mengikuti pengajian Bulan Ramadhan. "Dari Jawa Tengah juga banyak, seperti Rembang, Kudus juga ngaji kilatan disini," ungkapnya.
Saat mendaftar, santri kilatan itu diberikan kebebesan oleh pengurus dalam memilih kitab yang akan diikuti selama 27 hari. Ia mencontohkan, jika santri itu masih kecil maka kitabnya juga ringan. Namun, jika umurnya tua kitabnyapun juga sudah lumayan tinggi.
"Tetapi kalau habis salat Ashar sampai menjelang buka puasa kitabnya sama. Seluruh santri kilatan dan santri yang menetap mengikuti pengajian satu kitab," tambahnya.
Pondok yang pernah diasuh oleh Almarhum KH. Abdullah Faqih itu sampai saat ini terus berkembang. Kini, jumlah santrinya mencapai 4.000 lebih baik putra maupun putri. Tak sedikit lulusan Ponpes Langitan itu menjadi tokoh besar maupun menjadi orang alim yang disegani banyak orang.
"Disini kalau Bulan Ramadhan seperti ini juga menugaskan para santri untuk berdakwah di daerah yang masih minim keagamaan. Tahun ini ada sekitar 30 santri yang memang program pondok, belum yang utusan kiai," pungkasnya. (nur)




