Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Ketua TP PKK Jatim Arumi Bachsin saat menghadiri acara peringatan Hari Ibu dan HUT Dharma Wanita Persatuan, Kamis (22/12/2022).
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Momentum peringatan Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember dijadikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa untuk mendorong pemberdayaan perempuan. Khususnya di empat sektor utama kehidupan.
Gubernur perempuan pertama di Jatim ini mendorong para perempuan lebih berperan dalam kepemimpinan, akses pendidikan, ekonomi, dan upaya pencegahan pernikahan dini yang sekarang masih menjadi isu sosial di masyarakat. Menurutnya hal ini sesuai dengan tema peringatan Hari Ibu, yaitu 'Perempuan Berdaya, Indonesia Maju'.
BACA JUGA:
- Gubernur Khofifah Luncurkan 143 Ribu Kuota Beasiswa untuk Siswa dan Mahasiswa Jatim
- Gubernur Khofifah Pastikan 2 Prodi Baru Magister KCL Singhasari Dibuka pada 2027
- Bongkar Ratoon Perkuat Produktivitas Tebu Nasional
- Gubernur Khofifah Pimpin Panen dan Tanam Tebu Serentak, Jatim Bidik Swasembada Gula Nasional
"Memperingati Hari Ibu, selain merayakan capaian dan jasa yang telah dilakukan seluruh ibu di Indonesia, kita juga harus fokus memberdayakan perempuan. Jika perempuan sudah berdaya, maka kemajuan Indonesia adalah sebuah keniscayaan," ujarnya di Gedung Negara Grahadi, Kamis (22/12/2022).
Terkait kepemimpinan, Khofifah menilai keterwakilan perempuan masih minim di tampuk kekuasaan. Berdasarkan data dari KPU pada 2019, keterwakilan perempuan di lembaga legislatif baru 20,8 persen. Selain itu, saat ini posisi menteri yang dijabat oleh perempuan hanya berjumlah lima dari total 34 menteri yang ada.
"Bahkan, cuma 6% CEO dan kursi direksi di Indonesia yang diisi oleh perempuan. Ini bisa didorong agar ke depan lebih meningkat lagi, karena sudah banyak penelitian yang membuktikan kalau kepemimpinan perempuan bisa membawa dampak positif pada instansi dan iklim kerja di lapangan," terang Khofifah.

Sementara dalam hal pendidikan, Mantan Menteri Sosial itu menekankan bahwa masih ada anak bangsa yang kesulitan mengaksesnya. Terutama bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil.
"Alhamdulillah, sekarang negara dan dunia sudah sepakat bahwa pendidikan itu hak setiap orang. Tapi suka tidak suka, budaya patriarkat masih cukup kuat," tuturnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




