Menurutnya, pemugaran Kompleks Makam Sono sangat penting karena menjadi bukti bahwa 200 tahun lalu Sidoarjo merupakan pusat peradaban Islam.
"Beberapa waktu yang lalu saya datang ke sini bertemu dengan bupati. Kemudian diceritakan bupati tentang sejarah, bagaimana penjajah Jepang kemudian berkumpul di sini mengatur siasat syuhada," jelasnya.
Melalui kisah tersebut, menunjukkan bahwa Ponpes Sono bukan hanya sebuah pesantren, namun juga tempat lahirnya para syuhada serta ulama yang turut berjuang memerdekakan bangsa.
"Saya terketuk, saya merasa ini sudah lama ini harus dijadikan cagar budaya. Dalam hati saya, yang mendirikan bangsa, yang memerdekakan bangsa, serta yang menghormati bangsa sendiri kok susah. Maka saya segera berkoordinasi untuk mengatur revitalisasi. Saya juga NU, dulunya saya nyantri," cerita Dudung.










