Intinya, mereka ingin area publik di kota Surabaya banyak dihiasi asesoris dan nilai kepahlawanan yang menyenangkan, bukan pidato monoton.
“Ya, lagu-lagu yang membuat warga terhibur, tapi ada nilai edukasinya,” kata Diah Kusuma.
BACA JUGA:Lantik 57 Pejabat Pemkot Surabaya, Eri Cahyadi: Tak Capai Target Enam Bulan, Silakan Mundur
Ia mengakui bahwa awalnya pidato Wali Kota Eri Chayadi itu bagus dan sangat bermanfaat, terutama saat pandemic Covid-19.
“Imbaun itu bagus. Karena mengandung edukasi kepada warga Kota Surabaya. Tapi itu diperlukan hanya pada saat-saat tertentu. Kalau tiap hari disuguhi pidato ya membosankan. Sekarang berganti materi lagi,” katanya.










