Muktamar NU, Yahya Staquf, Birahi Politik, dan Sandal Tertukar

Editor: MMA
Senin, 27 Desember 2021 08:44 WIB

Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Ketua Umum PBNU berganti nahkoda. Dari KH Said Aqil Siraj ke . Bagaimana perjalanan NU ke depan? 

Simak tulisan Dahlan Iskan, wartawan kondang, di HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com pagi ini, Senin (27/12/2021). Selamat membaca:

YAHYA artinya hidup. Atau kehidupan; memberi hidup. Nama belakangnya yang saya tidak tahu artinya –sebelum saya tahu seperti apa tulisan Arabnya.

Saya pun menelepon Ustadz Yusuf Mansyur. Agar menuliskan nama belakang Ketua Umum PB NU yang baru itu dalam huruf Arab. Beliau tidak tahu pasti yang mana. Bisa jadi yang ini: ثَقُف. Atau yang ini: ثَقُوف.

Bacaannya, Anda sudah tahu, sama: tsaquf. Yang pertama pakai satu ''u'', yang kedua pakai dua ''u''.

Yang pertama berarti pendidik. Yang kedua bisa diartikan berbudaya atau berwawasan. Tapi, masalahnya nama belakang itu ditulis Staquf. Bukan Tsaquf. Itulah yang membuat saya harus bertanya seperti apa tulisan Arabnya.

Sebagai orang yang pernah sekolah di Madrasah Tsanawiyah saya hanya tahu huruf pertama nama belakang itu mestinya ditulis Ts, bukan St.

Tapi ini kan soal nama. Bukan soal bahasa. Terserah saja mau ditulis seperti apa. Bahkan tulisan di akta seperti itu kadang suka-suka pengurus kampung: mau ditulis seperti apa. Baru di zaman belakangan orang peduli ejaan nama anak masing-masing.

Di desa, di Jawa dulu, waktu saya kecil, kami tidak peduli dengan ucapan mana yang paling benar. Misalnya ketika belajar mengeja huruf Arab. Huruf bertama dibaca ''alip'' –bukan alif. Huruf kedua, ketiga dan keempat, semua dibaca sama: ''sak'' –tidak perlu mengubah-ubah posisi lidah. Demikian juga huruf "ain", kami baca dengan bunyi "ngain". Alimin jadi Ngalimin. Alamin jadi ngalamin.

Pun sampai saya remaja masih seperti itu. Kebiasaan itu pula yang terbawa sampai dewasa. Akibatnya, ketika belajar bahasa Inggris dan Mandarin saya terbiasa kurang peduli dengan konsonan: time saya baca taim –bukan thaim. 他 saya baca ''ta'' –harusnya tha (da).

Lalu bagaimana cara mengucapkan nama belakang itu? Diucapkan "Staquf" seperti orang mengucapkan kata ''stasiun''? Atau diucapkan "Sakuf" –seperti orang desa saya membaca huruf Arab?

“Sejak dulu kami mengucapkannya seperti mengeja kata stasiun," ujar Arif Afandi, mantan Pemred Jawa Pos dan mantan Wakil Wali Kota Surabaya. Kini menjadi guest editor di Harian Disway.

Arif satu angkatan dengan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Juga satu angkatan ketika sama-sama menjadi pengurus HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) komisariat Fisipol UGM. Arif jadi ketua. jadi sekretaris. Pun di kepengurusan organisasi mahasiswa Fisipol: BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa). Arif ketuanya, sekretarisnya.

Dua-duanya dari keluarga NU —tapi memilih aktif di organisasi yang di masa lalu lebih dekat ke Masyumi. Arif dari Blitar, dari Rembang –cucu kiai besar di sana dan keponakan Gus Mus.

"Saya tidak tahu kenapa nama Staquf ditulis seperti itu," ujar Arif.

Pentingkah itu? Sampai memakan beralenia-alenia di Disway ini?

Tentu tidak penting. Sama sekali. Tapi itu menarik –setidaknya bagi saya.

Yang saya tahu, Anda semua sudah tahu: bahwa yang penting-penting dari Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama sudah habis dibahas di berbagai media.

Incumbent Ketua Umum KH Said Aqil Siroj kalah.

Incumbent Katib Aam PB NU KH Yahya Staquf menang.

pun menjadi ketua umum PB NU yang baru –di usia 55 tahun. Itu tiga tahun lebih muda. Yakni dibanding saat Aqil Siroj pertama terpilih sebagai ketua umum, 11 tahun yang lalu.

Pemilihan ketua umum di Lampung itu bukan baik lawan buruk. Juga bukan baik lawan baik. Itu sangat baik lawan sangat baik. Bedanya: Said Aqil Siroj sudah membuktikannya. Begitu banyak universitas NU berdiri. Begitu sukses lobinya di bidang politik –sampai bisa menjadikan ulamanya menjadi wakil presiden: KH Ma'ruf Amin. Pun begitu berkibar perjuangan sosialnya: memoderatkan Islam. Lewat gerakan Islam Nusantara.

masih akan membuktikan kesuksesannya.

Setidaknya track record sangat jelas: berhasil mengubah Gerakan Pemuda Ansor –organisasi pemuda di bawah NU. membangunnya. Membesarkannya. Maka, setidaknya sebagian tugasnya sebagai ketua umum di NU sudah ia selesaikan.

Selebihnya masih banyak yang beliau programkan: ekonomi umat lewat network –istilah yang dipakai beliau: outlet–cabang-cabang NU se Indonesia.

Tapi yang paling banyak dibicarakan adalah keinginannya ini: independensi NU dari partai politik –dengan istilah kembali ke khitah. Tantangan terdekatnya: Pileg dan Pilpres 2024. Anda sudah tahu: di kalangan NU sangat tinggi.

Apakah akan bisa mengendalikannya?

Tentu akan memulai dengan dirinya sendiri: tidak akan menjadi calon presiden atau pun wakil presiden. Selebihnya masih pertanyaan besar. Partai PKB (58 kursi), rumah besar NU itu –perolehan kursinya tidak jauh beda dari PKS (50 kursi). Tentu PKB yang paling tidak sabar menunggu rincian kembali ke khitah itu. Misalnya: apakah berarti seluruh pengurus NU dilarang jadi pengurus partai –dilarang pula jadi caleg.

Bukan hanya PKB. Partai mana pun yang ingin mengusung Capres di 2024 harus segera cari jurus silat ke SH Teratai –bagaimana memanfaatkan suara kaum nahdliyin.

Selama ini terjemahan kembali ke khitah masih berspektrum terlalu luas. Apakah itu akan disempitkan?

Keterlibatan NU di politik memang sudah terlalu dalam. Bahkan politik itulah yang berjasa membuat NU meluas ke seluruh Indonesia.

Awalnya, NU itu benar-benar organisasi ulama. Namanya saja Nahdlatul Ulama –kebangkitan ulama.

Ketika di tahun 1950-an berubah menjadi partai NU, diperlukan banyak sekali suara. Maka siapa saja bisa menjadi anggota NU –tentu yang cocok dengan garis perjuangan NU. Diperlukan juga cabang dan ranting di seluruh Indonesia. Bahkan diperlukan pula tokoh luar Jawa sebagai ketua umum. Jadilah Idham Khalid, orang dari pedalaman Kalsel, sebagai ketua umum –terlama dalam sejarah NU.

Simak berita selengkapnya ...

1 2

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video