Celeng Satu Celeng Semua? Semua Orang Korupsi? Mulai Tak Ada Pahlawan?

Editor: mma
Kamis, 11 November 2021 06:41 WIB

Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Media sosial telah menelanjangi semua orang. Tapi benarkah ke depan tak ada ? Apa hubungannya dengan ? Simak tulisan wartawan terkemuka, Dahlan Iskan, di Disway dan HARIAN BANGSA, Kamis 11 November 2021 pagi ini.

Di bawah ini BANGSAONLINE.com menurunkan secara lengkap. Khusus pembaca di BaBe, klik lihat artikel asli di bagian akhir tulisan ini. Tulisan di BaBe banyak yang terpotong sehingga tak lengkap. Selamat membaca:

SUDAH lebih dari dua tahun terakhir ketua senam saya seorang purnawirawan kolonel polisi: Pak Yudi. Sejak itu setiap ada hari besar, senamnya terasa beda.

Kemarin, misalnya. Senam dimulai dengan ”Siaaaap... Grak!” Dilanjutkan dengan mengheningkan cipta. Lengkap. Diiringi instrumentalia yang biasa digunakan di taman makam itu.

Pakaian kami pun bebas: asal bernuansa . Umumnya peserta memilih celana militer. Ada yang pakai peci veteran, lengkap dengan sabuk pistol –tanpa isinya.

Kemarin memang " rel="tag">Hari Pahlawan. 10 November. Kita hormati kita.

Ke depan kita kesulitan untuk mencari . Zaman medsos telah memberikan gambaran berbeda: tidak ada orang yang sempurna. Orang yang semula kita kan tiba-tiba terlihat bopeng.

Bisa saja bopeng itu memang begitulah kenyataannya. Ada juga yang bopengnya buatan. Rupanya, banyak orang bopeng yang tidak rela kalau ada orang lain yang terlihat tidak bopeng. ”Celeng satu, semua..!” Begitu bunyi syair lagu Celeng Dhegleng yang tiba-tiba ngetop belakangan ini. ”Leng ji, leng beh,” bunyi asli lagu itu: ”Celeng siji, kabeh....”

Lagu Sri Krishna tersebut diluncurkan pertama Desember 2018. Jauh sebelum pandemi. Syairnya ditulis bersama dengan Romo Sindhunata. Inspirasinya datang dari lukisan karya pelukis Joko Pekik yang terkenal itu.

Sri Krishna seniman Yogyakarta. Pencipta lagu. Penyanyi. Ia seniman yang dilahirkan –pendidikannya sendiri ilmu hukum UGM, tapi tidak selesai.

Rambutnya panjang, tampilannya urakan. Ia sering kumpul dengan seniman Yogyakarta lainnya. Termasuk Butet Kartaredjasa dan almarhum Djaduk.

Baru di Celeng Dhegleng itulah lagunya ngetop. Tak lain gara-gara kontroversi banteng-. Seorang politikus PDI Perjuangan pusat menilai: yang mendukung Ganjar Prabowo itu bukan banteng, melainkan . Tidak persis begitu, tapi kurang lebih mirip itu.

Mirip ejeken Bonek yang kemudian justru menjadi nama kebesaran, pun julukan .

”Kalau pendukung Ganjar disebut , kami semua adalah .” Kurang lebih begitu kata mereka.

Kok kebetulan sudah ada lagu Celeng Dhegleng itu. Maka, jadilah lagu tersebut lagu kebesaran mereka. Yang lain pun ikut mengaksesnya.

Sebenarnya Sri Krishna bermaksud menjadikan lagunya itu sebagai kritik sosial. Lagu ciptaan Krishna yang lain pun bertema sosial. Termasuk yang judulnya Asu. Ia sama sekali tidak untuk dikaitkan dengan banteng.

Pun saya. Melihatnya dari sisi lain.

”Leng ji, leng beh” adalah fenomena zaman medsos ini. Mungkin memang banyak di negeri ini. Dan itu berbiak demikian cepatnya –seperti melebihi virus. Dan yang tidak mau ketularan dikan sekalian.

Saya pernah ingin jadi kecil-kecilan. Saya mau ditugasi memperbaiki grup perusahaan milik pemda yang lagi rusak. Tanpa dibayar. Tanpa dapat fasilitas. Bahkan, keluar uang sendiri.

Suatu saat saya bertanya kepada seorang aktivis. Ia juga seniman. Suka demo. Hidupnya selalu tirakat. Sering ke rumah saya.

Saya mendiskusikan soal korupsi dengan aktivis itu. Yang ia lihat mewabah begitu luasnya. Sampai-sampai masyarakat menilai, katanya, semua orang itu korupsi.

”Berarti, orang seperti saya juga dianggap korupsi?” tanya saya.

”Kalau kita bertanya kepada masyarakat apakah Dahlan Iskan itu korupsi, jawabnya ya korupsi lah,” kata seniman tersebut. ”Hanya mungkin masyarakat menilai korupsinya Dahlan Iskan itu tidak nemen-nemen,” tambahnya.

Saya agak lemes mendengarkan penilaian seperti itu. Tapi, itulah persepsi yang hidup di masyarakat. Tidak ada orang bersih. Leng ji, leng beh.

Semua orang korupsi. Yang tidak ketangkap penegak hukum itu karena tidak ketahuan saja. Atau kebetulan administrasi korupsinya baik.

Bahkan, yang belum korupsi pun akan dinilai karena belum punya kesempatan. Hanya karena belum punya jabatan. Belum diuji pula dengan posisi yang bergelimang uang.

Pokoknya semua orang harus . Kalau tidak pun akan dikan.

Untung kita sempat punya . Mereka lahir sebelum ada medsos. Sebagian besar kita pun bisa tampil sempurna. Bukan yang bopeng-bopeng.

Apakah itu berarti hilangnya dorongan untuk menjadi di masa depan?

Untuk apa berusaha menjadi menjangan kalau teriakan yang ia/dia dengar selalu menyebut dirinya/nyi ?

Kita memang akan terus memperingati " rel="tag">Hari Pahlawan. Sambil masa bodoh atas hilangnya motivasi untuk menjadi .

Lihatlah lirik lagu Celeng ini:

Zaman sekarang zaman yang aneh

muncul tokoh pun yang aneh-aneh

omongannya remeh temeh

memfitnah sana memfitnah sini

Simak berita selengkapnya ...

1 2

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video