Ahli Bahtsul Masail di Sidoarjo Berpulang, Ribuan Pelayat Antar Gus Huda

Editor: Shopi'i/Revol
Wartawan: Nanang Ichwan
Senin, 23 Maret 2015 22:09 WIB

Ribuan pelayat mengantarkan jenazah Gus Huda ke tempat peristirahatan terakhir di makam keluarga di Desa Siwalan Panji Kecamatan Buduran. Foto : Nanang Ichwan/BangsaOnline.com

SIDOARJO (BangsaOnline) - Ribuan pelayat dari santri, masyarakat, ulama, warga NU maupun pejabat di Kabupaten Sidoarjo mengantarkan pengasuh Pondok Pesantren (ponpes) Al-Falah Desa Siwalan Panji Kecamatan Buduran, K.H. Nurul Huda Nawawi ke peristirahatan terakhir, Senin (23/03). Kiai karismatik yang akrab disapa Gus Huda tersebut meninggal di usia 56 tahun setelah terjatuh ketika hendak ke kamar mandi.

Wakil Rois Syuriah PCNU tersebut meninggalkan 9 anak yakni 5 putra dan 4 putri dari perkawinan dengan Nyai Maimunah.

"Abah (Gus Huda) terjatuh saat ke kamar mandi. Saya sedang berada di Surabaya langsung ditelepon supaya pulang ke rumah. Setelah dokter mengecek keadaan abah, beliau dinyatakan meninggal, tepat pukul 11.00 WIB," ujar Abdul Khobir bin Muhammad Al-Huda (26), putra kedua Gus Huda.

Gus Khobir-sapaan akrabnya- menuturkan saat itu dirinya diperintahkan oleh Gus Huda untuk memesan undangan untuk rencana resepsi pernikahannya pada bulan Mei mendatang. Sedangkan ayahnya juga mempersiapkan untuk memesan katering.

Ada kenangan tersendiri bagi Gus Khoir tentang ayahnya. Menurutnya, Gus Huda selalu mengajak berziarah ke makam-makam para saudara-saudara, ulama' dan sering bersilaturrohim. Sebelum Gus Huda wafat, Gus Khobir menuturkan, ayahnya sempat memberi wasiat perjuangan agar meneruskan ma'had (pesantren) dengan menitikberatkan ajaran Islam.

"Nak, (pesantren) ini bukan hak keluarga, tapi milik Allah SWT. Harus dijaga sebaik-baik mungkin. Ini (pondok pesantren) murni untuk perjuangan di jalan Allah SWT," ucapnya menirukan wasiat Gus Huda.

Ketua Rois Syuriah PCNU Sidoarjo, K.H. Rofiq Siroj menyatakan sosok Gus Huda merupakan orang yang ahli di bidang bahtsul masail.

"Orangnya tidak semena-mena, selalu mengedepankan musyawarah," ujarnya.

Menurutnya, Gus Huda merupakan kiai yang semangat memberantas amar ma'ruf nahi munkar. "Seperti cafe-cafe dan yang baru-baru ini menolak patung di alun-alun," ujarnya.

K.H. Rofiq Siroj yang merupakan teman akrab sejak kecil ketika mondok di Ploso, Mojo Kediri tersebut, mengatakan seandainya Gus Huda diberikan umur yang panjang, maka layak untuk menjabat Rois Syuriah PCNU Sidoarjo.