Tiongkok Dilanda Kekurangan Listrik

Editor: mma
Sabtu, 02 Oktober 2021 18:47 WIB

Dahlan Iskan

Ketika saya menulis naskah ini suhu di Beijing sudah 23 derajat Celsius. Sudah sejuk sekali. Di Shanghai kurang lebih sama dengan di Jakarta: 31 derajat Celsius. Di Guangzhou yang mestinya lebih panas, ternyata sudah tinggal 28 derajat Celsius. Mungkin karena –seperti terlihat di Google– Guangzhou lagi dilanda hujan petir.

Musim panas di sudah berakhir –secara resmi. Yakni sejak diadakan pesta kue bulan minggu lalu. Setelah itu memasuki musim gugur.

Musim panas yang ekstrem ibarat mata pedang: di satu sisi banyak listrik ’’menguap ’’ di transmisi. Di sisi lain AC lebih banyak digunakan dengan mode coolest.

Saya sendiri punya perkiraan lain. Kekurangan listrik itu juga karena ini: debit air di semua pembangkit listrik tenaga air di mengalami penurunan yang drastis.

Gejala seperti itu terjadi di seluruh dunia: di setiap musim panas kapasitas turun drastis.

Di setiap puncak kemarau panjang, seperti Jatiluhur, hanya mampu memproduksi listrik kurang 20 persen dari kapasitasnya.

Padahal di seluruh -nya bisa memproduksi listrik sampai 300.000 MW. Tapi di musim panas bisa jadi mereka itu hanya mampu memproduksi sekitar 100.000 MW.

Akibatnya, harus menggenjot PLTU . memang penghasil terbesar di dunia. Tapi kapasitasnya sudah telanjur diturunkan. Dengan alasan: memperbaiki lingkungan hidup.

Semua PLTU yang ukuran 300 MW ke bawah juga harus ditutup dan dibongkar. juga tidak mau lagi memberi pinjaman untuk pembangunan PLTU di luar negeri.

Sulitnya lagi, tambang di adanya di perut bumi: harus membangun terowongan bawah tanah. Sulit dan mahal. Berbeda dengan tambang di Indonesia: tinggal mengeruk di permukaan tanah.

Untuk menambah kapasitas produksi di pasti bisa: tapi perlu waktu lama. Maka lebih baik mengimpor saja dari negara seperti Indonesia. Jaraknya dekat. Mutunya baik. Batubara kita selalu dapat pujian: kadar sulfurnya rendah, kandungan debunya juga rendah.

Setelah disedot dengan pipet raksasa, harga batu bara di Indonesia melonjak luar biasa. Pembangkit listrik di dalam negeri sampai mengalami kesulitan. Kecuali pembangkit listrik milik PLN. Yang mendapat jatah domestic obligation.

PLN mendapat fasilitas alokasi secara khusus. Jumlahnya sudah ditentukan. Harganya sudah dipatok. Semua tambang wajib mengalokasikan produksi mereka untuk domestic obligation itu.

Walhasil, kalau krisis listrik di sana akibat musim panas yang ekstrem, berarti itu bukan problem permanen.

Maka rasanya belum akan menelan ludah komunisnya sendiri. Sulit bagi untuk tunduk pada kemauan Australia. Apalagi Australia baru saja menandatangani perjanjian kapal selam nuklir. Yang bisa mengancam . Yang Prancis pun sewot.

Tapi dengan hanya menyedot Indonesia telah mengalihkan kesulitannya ke sini. Untung Indonesia lagi kelebihan listrik. Dan pemerintah lagi perlu uang. (Dahlan Iskan)

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video