Saat Kecil Saya Hina Allah dengan Kata Tak Pantas, Sekarang Saya Merasa Ketakutan

Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: .
Sabtu, 25 September 2021 10:46 WIB

Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.

>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<

Pertanyaan:

Assallammualaikum Wr.Wb. Sebelumnya perkenalkan Kiai, saya Kiptya dari Medan. Saya sedang merasa galau dan bersalah terus menerus.

Kisah bermula saat saya umur 7 tahun. Saya ingin adik saya hanya bermain dengan saya, namun adik saya tidak mau dan dia bermain dengan anak lain. Karena marah, dari mulut saya keluar kata-kata yang menghina keberdaan Allah dan tidak pantas diucapkan dan didengar. Adik saya langsung mengingatkan jangan bilang seperti itu, nanti Allah bisa marah.

Setelah kejadian itu, pada bulan-bulan berikutnya saya menjadi rajin belajar ngaji. Bahkan sekolah pun juga di madrasah. Sejak SMP pun saya sudah berhijab dan diingatkan sama Mamak saya, boleh berhijab, tapi salatnya gak boleh tinggal. Alhamdulilah sampai saat ini, saya masih bisa menuruti kata Mamak saya.

Namun, belakangan ini, setelah saya di asrama, saya kembali teringat terus kata-kata yang pernah saya ucapkan dan peringatan adik saya kalau Allah akan marah. Setiap ibadah salat, kata-kata hinaan dan peringatan adik saya berlintasan di pikiran.

Saya jadi takut. Sering nangis sendiri. Saya lawan dengan zikir dan memohon ampunan terus menerus. Saya merasa terus menerus ketakutan dan sangat malu sama Allah. Alhamdullilah meski berat, kadang saya bisa melawan kata-kata buruk dihati saya kiai.

Tolong bantu saya Kiai, apakah Allah akan menerima taubat saya? Terima kasih Kiai sebelumnya.

Waalaikumsalam. (Kiptya - Medan)

Jawaban:

Waalaikummussalam. Mbak Kiptya, kalau melihat usia, Anda tergolong masih sangat muda. Semoga jawaban saya yang singkat ini bisa menenangkan hati

Perasaan bersalah karena mengingat "pikiran atau lintasan prasangka buruk pada Allah" yang mbak alami ketika kecil atau remaja atau kapan pun itu pertanda baik. Sebab, itu adalah pertanda bahwa hati mbak nyambung dengan Allah. Ketersambungan itu harus dipelihara, dipertahankan bahkan --jika mungkin-- dikembangkan.

Hanya mbak harus menjaga gelombang kebiasaan manusia pada umumnya. Jika tidak, maka mbak dinilai sebagai "tidak waras" jiwanya. Hiduplah normal-normal saja, seperti mayoritas kaum Muslim di tempat mbak menjalani kehidupan.

Suara hati khawatir tobat tidak diterima oleh Allah, ini juga pertanda baik. Asal kekhawatiran itu mendorong mbak untuk memperbaiki kualitas atau kuantitas ibadah. Dalam waktu yang sama "perasaan" tersebut membuat mbak semakin jauh dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah.

Ini pun mbak harus menjaga sikap yang biasa dilakukan oleh mayoritas kaum Muslim ketika bertobat. Mbak tidak boleh "terlalu kentara" menunjukkan penyesalan yang berlebihan. Bersikaplah secara normal, seperti yang ditunjukkan oleh mayoritas kaum Muslim ketika mereka tobat dan menyesali dosa.

Sisi baik ini akan menjelek, jika di benak mbak muncul perasaan: ingin dipuji sebagai orang khusyuk dan taat beribadah. Perasaan seperti ini akan menghancurkan "indikasi baik" seperti yang saya jelaskan. Apapun perasaan yang muncul di hati dan pikiran, itu tidak boleh berlebihan. Perasaan "aku ini biasa-biasa saja", itulah yang punya nilai tinggi di sisi Allah.

Demikian, wallahu a'lam.