Dosa Besar Suami yang Tak Mau Mencari Nafkah Keluarga

Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: .
Sabtu, 11 September 2021 11:19 WIB

Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A

>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<

Pertanyaan:

Assalamualaikum Wr. Wb. Kiai, saya ingin mengeluarkan unek-unek rumah tangga saya. Saya ibu rumah tangga dan pedagang kecil. Suami sementara belum bekerja. Kebutuhan pribadi dan rumah tangga saya yang mencukupi.

Saat suami mulai bekerja, saya pernah minta uang untuk kebutuhan pribadi. Kelihatannya suami tidak suka karna untuk kebutuhan pribadi. Saya dinilai wanita yang tidak bisa bersyukur.

Apakah saya ketika minta uang untuk kebutuhan pribadi saya termasuk dosa besar kiai? Terima kasih jawabannya. (Rifa - Blitar)

Jawaban:

Waalaikummussalam wr.wb. Menurut hemat saya, sejatinya persoalan yang sampaikan dalam pertanyaan hanya soal teknis berkomunikasi dengan suami. Ini soal sederhana, tapi jika "kesalahan komunikasi" ini terjadi berulang-ulang, akan bisa menjadi persoalan besar yang bisa merobohkan bangunan rumah tangga. Untuk itu, ibu dan suami hanya perlu memperbaiki sikap dan teknis berkmunikasi.

Sejak awal mestinya baik atau istri sama-sama menyadari bahwa tugas mencari nafkah itu adalah suami. Allah berfirman: "Para lelaki (suami) itu menjadi pemimin kaum perempuan (istri), karena Allah mengunggulkan yang satu atas yang lain, dan karena mereka (suami) memberi nafkah menggunakan harta mereka"... (Qs al-Nisa: 34).

Dan firmanNya: "Laki-laki itu memilki keunggulan satu derajat di atas istri, Allah itu maha Perkasa dan maha Bijaksana." (Qs al-Baqarah: 228)

Dua ayat ini dan beberapa hadis menjelaskan bahwa tanggung jawab nafkah dalam keluarga itu adalah suami. Persoalannya dalam kasus yang pernah ibu alami, justru istri yang mencari dan menghasilkan untuk nafkah atau biaya rumah tangga. Dalam konteks ini, apakah suami bisa lepas dari kewajiban memberi nafkah keluarga? Suami tetap punya kewajiban mencari nafkah. Jika tidak melaksanakannya, ia berdosa ganda: dosa pada Allah dan dosa pada anggota keluarga.

Ketika istri --karena satu dan lain hal-- yang mencari dan menafkahi keluarga, istri tidak boleh angkuh atau merendahkan suami. Istri tetap wajib hormat dan bekerjanya itu atas izin suami. Jadi istri yang bekerja seperti ini adalah kerja yang sah, legal, dan baik.

Di sinilah suami-istri harus saling pengertian. Ketika dalam perjalanan waktu; suami bisa bekerja dan menghasilkan, suami-istri harus konsisten untuk saling pengertian. Misalnya, istri bicara dengan penuh kelembutan dan sopan untuk mendapatkan biaya hidupnya. Janganlah mengungkit "kompensasi" saat suami dulu masih nganggur.

Jika komunikasi diperbaiki, insya Allah akan dapat "nafkah pribadi" lebih besar dari yang ibu minta. Apakah ibu minta nafkah pribadi pada suami itu dosa? Nafkah itu hak ibu dan kewajiban suami. Jika suami tidak melaksanakan kewajbannya, maka dialah yang berdosa. Tapi "kehidupan dalam keluarga" itu tidak hanya dosa dan pahala; wajib dan haram. Tapi kehidupan dibumbui seni berkomunikasi yang dilandasi cinta kasih.

Jika rasa cinta dan kasih sayang eksis pada diri suami-istri sebagai satu kesatuan, betapa indah dan bahagia kehidupan keluarga ini. Jika kebahagiaan terus berkembang dalam kehidupan keluarga, berarti sabda Rasul: "Rumahku penuh kebahagian bagaikan surga". Demikian, semoga ibu, suami dan segenap anggota keluarga selalu sehat, sabar dan bahagia selalu. Wallahu a'la.