​Sama Pernah Terjajah, Afghanistan Senasib dengan Indonesia Saat Merdeka

Editor: mma
Kamis, 02 September 2021 14:04 WIB

Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA saat jadi pembicara dalam Webinar bertajuk: Taliban: Fundamentalisme vs Moderatisme yang digelar Pesantren Salafiyah Seblak Jombang Jawa Timur tadi malam, Rabu (1/9/2021). foto: mma/ bangsaonline.com

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Di tengah sorotan negatif terhadap Taliban yang kini menguasai Afghanistan ternyata ada pandangan menarik dan positif dari Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA. Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu menegaskan bahwa nasib Afghanistan sama dengan nasib Indonesia saat melepaskan diri dari penjajahan Belanda dan Jepang. 

Menurut Kiai Asep, para pemimpin dan rakyat Afghanistan juga ingin merdeka dari penjajahan Amerika Serikat dan negara lain. Merdeka dalam arti sesungguhnya.

Karena itu Kiai Asep mengajak kita berempati, iba, dan berdoa semoga Afghanistan menjadi negara yang benar-benar merdeka dan damai. Atau merdeka dalam arti sesungguhnya.

“Yang istiqlal haqqan istiqlal (merdeka secara hakiki), kata mereka,” kata Kiai Asep Saifuddin Chalim dalam Webinar bertajuk: Taliban: Fundamentalisme vs Moderatisme yang digelar Pesantren Salafiyah Seblak Jombang Jawa Timur tadi malam, Rabu (1/9/2021).

Menurut Kiai Asep, prinsip itu sama dengan prinsip yang dipegang oleh para pendiri Republik Indonesia saat memperjuangkan kemerdekaan. Yang saat itu mengatakan bahwa negara kita Laa gharbian wala syarqian, laa rusian walaa amerikan

“Tidak ke barat dan tidak ke timur, tidak ke Rusia dan tidak ke Amerika,” kata Kiai Asep. Alias non blok.

Bagi Kiai Asep, Afghanistan adalah negara senasib dan sepenanggungan dengan Indonesia. Karena selain sama-sama pernah terjajah juga paham keagamaan masyarakatnya juga sama.

“Jadi nasib Afghanistan sekarang ini sama dengan nasib Indonesia saat kemerdekaan dulu. Afghanistan sekarang ini baru lepas dari penjajahan Amerika. Mereka ingin merdeka dengan kemerdekaan yang sesungguhnya,” kata Kiai Asep.

Menurut Kiai Asep, masalah kemerdekaan itu adalah hak hakiki semua bangsa. 

“Kalau kita jujur hingga sekarang kita, Indonesia, justru belum merdeka sesungguhnya karena masih jadi rebutan kepentingan negara-negara asing. Karena itu kita harus menghargai sikap tegas pemimpin dan rakyat Afghanistan dalam melepaskan diri dari penjajah,” tambahnya.

Kiai Asep justru mengapresiasi sikap politik Abdul Ghani Baradar, pemimpin politik Taliban yang kini disebut-sebut sebagai kandidat kuat Presiden Afghanistan.

Menurut Kiai Asep, saat berpidato di depan para pejabat dan pengusaha Saudi Arabia dalam pertemuan IATA, Baradar mengatakan bahwa Afghanistan akan bekerja sama dengan semua negara.

Baradar mempersilakan semua negara investasi di Afghanistan tapi pembagiannya harus adil. Menurut Kiai Asep, sikap Baradar itu sangat bagus sebagai pemimpin. Karena melindungi nasib rakyat dan kepentingan bangsanya. Dan itulah makna kemerdekaan sesungguhnya.

Kiai Asep lalu membandingkan dengan kasus di negara kita. Yaitu industri pengolahan bijih nikel di Morowali Sulteng dan Konawe Sultra yang hanya mendapat 10 persen. Sedang investor China yang membangun smelter mengeruk keuntungan 90 persen.

Begitu juga PT Preefort Indonesia. “Kita hanya mendapat 1 persen,” kata Kiai Asep yang dalam Pilpres berkampanye hingga keluar negeri untuk memenangkan Jokowi-KH Ma'ruf Amin.

Kiai Asep juga memuji Baradar yang secara tegas menolak impor ideologi dan paham agama dari negara lain. Menurut Kiai Asep, Baradar mengatakan bahwa kami akan berhubungan erat dengan Saudi Arabi tapi tidak dengan paham Wahabinya.

“Begitu juga akan berhubungan erat dengan Iran tapi tidak dengan Syiahnya. Juga dengan Cina tapi tidak dengan komunisnya, dengan Israel tapi tidak dengan Yahudi dan zionisnya, dan dengan Amerika tapi tidak dengan kapitalisnya,” kata Kiai Asep.

Kiai Asep menegaskan bahwa aliran keagamaan rakyat Afghanistan sama dengan rakyat Indonesia. Yaitu Ahlussunnah wal Jamaah. 

Mengutip pidato Baradar, Kiai Asep mengatakan bahwa rakyat Afghanistan itu 60 persen menganut madzhab Hanafi, 25 persen paham Syafii, 6 persen Malik, 6 persen Hanbali, dan 3 persen paham lain.

“Ini kan sama dengan Indonesia. Yang beda hanya komposisinya. Kalau di Indonesia 90 persen menganut Syafii,” kata Kiai Asep yang ketua umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) kepada BANGSAONLINE.com usai webinar.

Menurut Kiai Asep, di Afghanistan juga ada Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA). "Ketuanya Fadil, pernah datang ke sini (Amanatul Ummah) menjadi pembicara dengan bahasa Inggris yang sangat bagus," kata Kiai Asep sembari mengatakan bahwa Fadil berasal dari kubu pemerintah, bukan Taliban. 

Bahkan istri Fadil seorang menteri. "Saat ke sini istrinya ikut tapi tak jadi pembicara," kata Kiai Asep. Karena itu hubungan Kiai Asep dengan tokoh-tokoh Afghanistan kubu pemerintah sangat baik.

Bahkan kini ada beberapa mahasiswa asal Afghanistan dari suku Pastun kuliah di Institut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) Pondok Pesantren Amanatul Ummah.

“Pesantren kami memberi beasiswa ke seluruh dunia,” kata Kiai Asep. Kebetulan Pemerintah Afghanistan merespon sehingga ada beberapa mahasiswa dari negara tersebut kini kuliah di IKHAC. Diantaranya Abdul Wali. 

“Yang ada di sebelah saya ini,” kata Kiai Asep kepada peserta webinar.

Abdul Wali berasal dari suku Pastun. Abdul Wali ikut mendampingi saat Kiai Asep menjadi pembicara dalam webinar tersebut di Rektorat IKHAC. Dari Abdul Wali inilah Kiai Asep mendapat beberapa informasi tentang situasi Afghanistan.

Menurut Kiai Asep, yang perlu diketahui bahwa saat pemerintahan Presiden Ashraf Ghani berkuasa yang didukung Amerika Serikat sebenarnya terjadi dualisme kekuatan dan kekuasaan di semua provinsi. “Kalau Presiden Ashraf Ghani punya gubernur, Taliban juga punya di semua provinsi,” tambahnya.

Bahkan, kata Kiai Asep, arus kuat dipegang Taliban. “Dari 34 provinsi, Taliban menguasai 33 provinsi. Hanya Panjshir yang tidak dikuasai Taliban,” kata Kiai Asep. Karena itu mudah dimaklumi ketika Amerika Serikat paham tentang kekuatan Taliban. Yang kemudian memilih meninggalkan Afghanistan.

Kiai Asep yang kini memiliki 12.000 santri itu minta agar kita memandang Afghanistan secara obyektif dan tidak memberi stigma negatif secara berlebihan gara-gara Taliban berkuasa.

Kiai Asep menyadari bahwa Taliban pernah bersalah saat berkuasa pada 1996 hingga 2001. Karena terlalu kaku dan ketat saat berkuasa atau memerintah. Bahkan melarang perempuan bersekolah, membunuh lawan politik, dan menerapkan syariat Islam secara kaku.

Kiai Asep berharap kesalahan-kesalahan itu menjadi koreksi bagi Taliban sehingga ke depan bisa memerintah dengan baik dan damai. “Kita doakan agar Afghanistan segera menjadi negara. Kita harus iba. Yang penting damai,” kata Kiai Asep.

Dalam Webinar yang dipandu KH Abdul Halim Mahfud (Gus Iim), Pengasuh Pesantren Seblak itu, selain Kiai Asep juga tampil Prof Dr KH Imam Ghazali Said, dosen UINSA dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wonocolo Surabaya dan Trias Kuncahyono, wartawan senior Kompas Jakarta. (mma)