Asyik, Vaksin Dapat Beras, Uang dan Kacang Ijo, Ini di Amanatul Ummah Mojokerto

Editor: mma
Minggu, 29 Agustus 2021 15:58 WIB

Para santri Pondok Pesantren Amanatul Ummah saat proses pendaftaran dan skrining untuk divaksin di Institut Pesantren KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto Jawa Timur, Jumat (26/8/2021). Foto: mma/bangsaonline.com

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com-Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA punya cara sendiri untuk mempercepat vaksinasi di lingkungan masyarakat Mojokerto. Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu memotivasi warga dengan memberi beras, kacang ijo, dan uang transport.

Dengan cara itu masyarakat berbondong-bondong datang ke lokasi vaksinasi yang digelar Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto. Diantaranya di Madrasah Aliyah Hikmatul Amanah dan Institut Pesantren KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto

"Ya untuk membantu pemerintah," kata Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, kepada BANGSAONLINE.com, Ahad (29/8/2021).

Kiai Asep mengaku sengaja memberi beras, kacang ijo dan uang transport agar mereka termotivasi untuk divaksin sehingga mempercepat terciptanya herd immunity seperti yang dicanangkan pemerintah.

“Kalau gak diberi beras masyarakat gak datang. Kalau diberi beras, transport dan kacang ijo masyarakat senang,” kata kiai yang dikenal gemar bersedekah hingga miliaran rupiah itu.

Vaksinasi yang digelar Kiai Asep itu berlangsung dalam beberapa gelombang.

Gelombang pertama digelar pada 26 Agustus 2021 di Madrasah Aliyah Hikmatul Amanah. Letak madrasah ini berada disebelah Institut Pesantren KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto.

"Ini diikuti 1.000 orang," tutur Kiai Asep. Mereka ini terdiri dari siswa-siswi madrasah Hikmatul Amanah yang selama ini pulang-pergi, tidak menetap di pesantren. Mereka adalah siswa-siswi yang mendapat beasiswa alias gratis, baik SPP maupun faslitas lainnya.

Vaksinasi ini juga diikuti masyarakat umum. Mereka inilah yang mendapat beras 5 kg, kacang ijo dan uang transport.

Menurut Kiai Asep, vaksinasi ini digelar Asep Saifuddin Chalim (ASC) Foundation yang diketuai Muhammad Al Barra (Gus Bara) bekerjasama dengan PC Nasdem Kabupaten Mojokerto. “Nasdem yang minta kerjasama,” kata Kiai Asep yang memiliki 12.00 santri itu.

Hadir dalam acara itu Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati, Wakil Bupati Muhammad Al Barra (Gus Bara), Kapolres Kabupaten Mojokerto AKBP Dony Alexander dan Ketua PC Nasdem Mojokerto Suwandi.

Gelombang kedua digelar di Institut Pesantren KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto, Jumat (27/8/2021). Vaksinasi ini kerjasama dengan Kodim Mojokerto. Ini merupakan progran Serbuan Vaksinasi ke Pondok Pesantren secara serentak. Sasaran utamanya adalah para santri.

"Anak-anak kelas III MBI (Madrasah Bertaraf Internasional-Red) yang saya turunkan," kata Kiai Asep. Termasuk para guru, dosen, dan keluarga Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Kali ini, menurut Kiai Asep, sebanyak 1.400 orang yang divaksin.

Kiai Asep menjelaskan bahwa ada 7 unit lembaga pendidikan di bawah Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto. Namun sebagian masih belum divaksin.

Kenapa? “Saya harus mendapat ijin dulu dari orang tua mereka,” kata Kiai Asep. Ia mengaku sudah mengumumkan kepada para santrinya agar mereka menentukan pilihan sendiri. Artinya, kalau para orang tua mereka mengijinkan divaksin Sinovac dipersilakan. Asal bukan AstraZeneca dan Johnson & Johnson. Karena dua vaksin tersebut selain mengandung tripsin babi juga ginjal manusia, terutama AstraZeneca. 

"Karena saya sudah mendengar sendiri pemaparannya," kata Kiai Asep. 

Tapi kalau mereka belum mau divaksin karena menunggu vaksin nusantara dan merah putih atau vaksin karya anak bangsa Kiai Asep mengaku sangat menghargai.

“Kan harus ada yang tersisa untuk nasionalisme dan patriotisme,” kata Kiai Asep. Menurut Kiai Asep, kita sudah merdeka sejak 76 tahun lalu. "Masak soal vaksin saja belum bisa mandiri," tegas Kiai Asep yang punya obsesi besar untuk mewujudkan Indonesia maju, adil dan makmur.

Berarti akan ada vaksinasi gelombang berikutnya? “Ya ada. Nanti akan kita atur waktunya," kata Kiai Asep. Menurut Kiai Asep, untuk memanggil dan mengumpulkan para santri tak repot. Hanya butuh 10 atau 15 menit.

"Saya telpon 10 menit mereka sudah datang," katanya. Karena itu ia berharap agar pemerintah segera merealisasikan program vaksin karya anak bangsa atau buatan dan hasil temuan sendiri, bukan impor dari negara lain atau bahan bakunya dari negara lain.

"Kita harus merdeka sesungguhnya. Merdeka itu mandiri dalam segala hal, bukan ditentukan oleh negara lain, termasuk WHO," ujarnya. (mma)