Hadapi Lonjakan Corona, Bupati Pamekasan Instruksikan Rekrut Relawan dan Buka Rumah Bersalin Khusus

Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: Ferdiana Lestari
Rabu, 14 Juli 2021 18:27 WIB

H. Baddrut Tamam, Bupati Pamekasan. (foto: ist)

PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Bupati Pamekasan H. Baddrut Tamam memberikan perhatian khusus terhadap peningkatan kasus wabah corona akhir-akhir ini yang berdampak pada penuhnya rumah sakit rujukan pasien Covid-19.

Baddrut Tamam secara khusus melakukan rapat virtual dengan sejumlah stakeholder terkait, termasuk dengan pimpinan organisasi profesi tersebut. Selain membahas optimalisasi layanan dan kapasitas rumah sakit yang sudah overload, rapat juga membahas tidak sebandingnya jumlah tenaga kesehatan (nakes) dengan jumlah pasien yang dirawat saat ini.

Karena itu, Baddrut Tamam meminta rumah sakit untuk merekrut relawan nakes dari dokter, bidan, dan perawat.

Dalam rapat itu, secara khusus Baddrut meminta Kantor Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Pamekasan untuk dijadikan klinik tempat persalinan untuk melayani masyarakat Bumi Gerbang Salam secara umum, baik yang sehat maupun yang terpapar Covid-19.

"Khusus Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Pamekasan, agar kantor IBI bisa dijadikan klinik tempat persalinan yang bisa melayani masyarakat," tegas Baddrut kepada awak media, usai rapat secara virtual, Rabu (14/7/2021).

Sementara itu, Ketua IBI Cabang Pamekasan Siti Maimunah mempersilakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan segera memproses keinginan bupati tersebut. Pihaknya juga siap untuk mengnurus izin praktik mandiri bidan (PMB) dan kerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

"Karena untuk membuka klinik perlu melalui SOP yang telah ditentukan,” katanya.

"Kemungkinan dalam minggu ini sudah bisa beroperasi," tambah Maimunah.

Selain itu, pihaknya juga mengaku telah mulai membuka kesempatan kepada tenaga relawan bidan yang hendak bergabung. Nantinya, mereka akan dioptimalkan untuk bertugas dan melayani warga di rumah bersalin yang ditempatkan di Kantor IBI Cabang Pamekasan.

Hal ini dinilai efektif. Pasalnya, wanita hamil memang memerlukan tempat persalinan khusus dan baik. Sebab, persalinan di bidan desa sangat berisiko karena tidak dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) yang lengkap dan tanpa pemeriksaan swab sebelumnya.

"Relawan akan dikontrak selama tiga bulan. Mudah-mudahan pandemi berakhir dalam tiga bulan ini," jelasnya.

Ia mengungkapkan, saat ini sudah 76 orang bidan yang terinfeksi Covid-19. Sementara bidan dengan status suspect sebanyak 104 orang, dan mereka diyakini kontak erat dengan ibu bersalin.. (pmk1/zar)