​Kiai Zainuddin Djazuli, Pengasuh Pesantren Al-Falah Ploso Kediri Wafat, Inilah Pesannya

Editor: mma
Sabtu, 10 Juli 2021 16:46 WIB

KH Zainuddin Djazuli saat dijenguk para perwira polisi. Foto: ist.

KEDIRI, BANGSAONLINE.com – Umat Islam – khususnya warga NU – kembali berduka. KH Zainuddin Djazuli, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri Jawa Timur wafat, pukul 12.00 WIB, Sabtu (10/7/2021).

Gus Din – panggilan sehari-hari KH Zainuddin Djazuli – selain dikenal sebagai tokoh NU juga menjadi rujukan nasihat para pejabat di Jawa Timur. Tercatat mulai Gubernur Imam Oetomo, Soekarwo, hingga Khofifah Indar Parawansa sangat hormat kepada kiai kharismatik tersebut.

Gus Din merupakan putra tertua pasangan KH Ahmad Djazuli Usman dengan Nyai Rodliyah. Gus Din memiliki empat saudara. Yaitu KH Nurul Huda Djazuli (Gus Da), Kiai Hamim Djazuli (Gus Miek), KH Fuad Mun'im Djazuli, KH Munif Djazuli, dan Nyai Lailatul Badriyah Djazuli.

Dari sekian kiai bersaudara itu Gus Mik dan Gus Munif dikenal sebagai ahli hikmah. Namun yang sangat legendaris adalah Gus Mik. Kiai yang akrab dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) banyak berdakwah di lingkungan orang-orang penuh maksiat, termasuk peminum atau pemabuk. Termasuk di hotel-hotel.

Gus Mik semasa hidup memang penuh kontroversi. Namun memiliki Jemaah sema’an luar biasa banyak. Dalam setiap acara yang hadir puluhan ribu orang.

Sementara Gus Din lebih banyak mengurus pondok pesantren, disamping tercatat sebagai pengurus di PBNU dan PWNU Jawa Timur.

Gus Din juga aktif di politik. Semula ia di Golkar. Lalu di PKB dan mendirikan PKNU.

Gus Din pernah menyampaikan pesan khusus terkait belajar agama. Menurut dia, belajar agama tidak bisa dilakukan dengan cepat, melainkan dengan proses.

Ia mencontohkan proses belajar yang dilakukan ayahnya, Kiai Ahmad Djazli Usman. “Abah saya (Kiai Djazuli) dulu pertama mondok di Gondang Legi, di sana khatam Kitab Ajjurrumiyah, terus pindah ke Mojosari, di sana 7 tahun, terus lanjut ke Makkah selama 3,5 tahun. Waktu di Makkah beliau di kasih kitab Dalailul Khairat oleh Habibullah asy-Syintiqiti, sambil diberi pesan agar nanti kalau mencarinya, carilah di tempat ini,” kata Gus Din dikutip Jatimnu.co.id.

“Ternyata ketika dicari malah menemukan kabar bahwa Habibullah asy-Syintiqiti sudah meninggal 200 tahun yang lalu. Kalau mau ke Madinah, semua kitab disimpan rapi, hanya kitab dalail yang dibawa, beliau jalan kaki dari Makkah ke Madinah selama satu bulan.”

Ia mempertanyakan, apa santri sekarang ada yang sampai tirakat seperti itu. Menurut dia, dulu jalannya masih padang pasir, tiap kali berhenti istirahat di dalam pasir, hanya kelihatan wajahnya saja di permukaan. “Seperti itu riyadhah Abah saya. Di Madinah ditangkap oleh Belanda lalu dipulangkan ke Indonesia hanya memakai kaos dan celana serta hanya membawa kitab dalail. Setelah itu Abah masih mondok lagi di Termas setengah tahun.”

“Yaa.. bisa dilihat barakahnya, bisa bangun pondok Al Falah seperti ini. Sekarang kalau cari yang instan tidak ada, yang instan namanya martabak dan mi,” tegasnya. (tim)