Baru 4 Bulan Jualan, Rendang Jamur Warga Kediri Tembus Mancanegara, Omzet Capai Belasan Juta Rupiah

Editor: Yudi Arianto
Wartawan: Muji Harjita
Kamis, 17 Juni 2021 18:24 WIB

Wilujeng saat mengemas rendang jamurnya. foto: ist.

KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Masa pandemi memang berdampak ke semua lini kehidupan. Namun siapa sangka, justru di masa pandemi ini Wilujeng Dwi Ratna Ningtiyas (30) berhasil mengembangkan bisnis rendang jamur.

Usaha yang digeluti warga Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, sejak bulan Maret 2021 lalu ini ternyata telah banyak diminati pasar luar negeri.

Melimpahnya produk jamur tiram di wilayahnya membuat Ajeng-sapaan Wilujeng yang juga seorang vegetarian ini tertarik memproduksi rendang yang berbahan non daging. Apalagi, selama ini masih sedikit masyarakat di sekitarnya yang mengolah jamur tiram.

Ia memilih jamur tiram coklat sebagai bahan rendang karena memiliki tekstur yang mirip dengan daging. Makanan ini cocok bagi para vegan yang ingin menikmati masakan rendang tanpa daging.

Pembuatan rendang ini sangat mudah, namun proses memasaknya membutuhkan waktu hingga 8 jam. Pertama, jamur tiram dipotong dan disuwir, kemudian direbus sekitar 5 menit dan ditiriskan hingga benar-benar mengering.

Setelah itu, jamur dimasak menggunakan resep tradisional di dalam sebuah wajan. Setelah semuanya tercampur, adonan diaduk dan dimasak hingga 8 jam sampai bumbu meresap sempurna.

“Kebanyakan rendang yang dijual menggunakan daging, baik sapi, ayam, atau ikan. Karena saya sedang merambah ke vegan, jadi ingin membuat produk yang bisa dikonsumsi vegan. Selain itu, harga jamur juga lebih murah dibandingkan daging,” kata Ajeng, Kamis (17/6).

Sejak tiga bulan memproduksi, Ajeng telah menghabiskan 90 kilogram jamur tiram yang dibeli di petani seharga Rp 25 ribu per kilogram. Rendang jamur buatannya dijual dalam kemasan 100 gram dengan 3 varian rasa, yaitu original, pedas, dan super pedas.

Harganya pun cukup terjangkau, yakni berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu. Produk ini bisa bertahan 2 minggu di suhu ruangan, dan bertahan 6 bulan jika disimpan dalam freezer.

Saat ini, permintaan rendang jamur datang dari Jakarta, Sumatra, Kalimantan, hingga Sorong Papua. Memanfaatkan media online, pemasaran jamur rendang ini juga menjangkau pasar mancanegara seperti Cina, Makau, Kanada, Turki, Mesir, Hongkong, dan Taiwan.

Hasilnya pun menjanjikan. Dalam sebulan, omzet usaha rendang jamur ini bisa mencapai Rp 11 juta.

Menurut Ajeng, di Indonesia baru ada dua produsen rendang jamur, yaitu dirinya dan produsen asal Tangerang. Ia bersyukur usahanya ini mampu menambah pendapatan di tengah sulitnya ekonomi akibat pandemi Covid-19. (uji/ian)