Tokoh Konghucu Bingky Meninggal, Barongsai, Imlek, Cap Go Meh Bisa Digelar Berkat Gus Dur

Editor: mma
Selasa, 01 Juni 2021 09:05 WIB

Dahlan Iskan

Di rumah itu, Bingky tidur di tempat tidur yang dulu dipakai –sengaja diberikan ke Bingky oleh yang empunya.

memang sayang sekali ke Bingky. Akhirnya Bingky lebih sering tinggal di Jakarta. Agar dekat dengan . "Sampai Pak Bingky dikontrakkan rumah sederhana oleh ," ujar Ny Bingky.

"Yang bayar kontrakan siapa?," tanya saya.

"Ya lah. Mana Pak Bingky punya uang," ujarnyi.

"Kontrakan rumahnya di mana?"

“Pindah-pindah," tambahnyi.

Ada satu hal yang menyatukan tokoh Konghucu ini dengan tokoh NU itu: kepercayaan Jawa. Keduanya cocok sekali kalau sudah bicara soal kejawen.

"Anda bisa berbahasa Mandarin?," tanya saya pada Mas Agus, putra sulung Pak Bingky.

"Mboten saget," jawabnya. "Menawi boso Jowo kulo ngertos," tambahnya.

Bingky punya anak 4 orang. Semuanya tidak ada yang bisa bahasa Mandarin. Mereka hidup secara Jawa. "Saya juga tidak bisa Mandarin," ujar sang istri.

"Ibunda Pak Bingky itu wanita Jawa asli. Ayah Pak Bingky yang Tionghoa totok," ujar Ny Bingky.

Bingky lahir di Surabaya. Dengan nama bayi Po Soen Bing. Sedang istrinya kelahiran Tuban.

Nama Bingky juga tidak bisa dipisahkan dengan perjuangan Imlek Nasional.

Semasa jadi presiden, Bingky sering ke istana. Biasanya bersama Budi Tanujaya dan Chandra.

"Pernah, kami bertiga, jam 4 pagi berangkat ke Istana," ujar Budi Tanujaya kepada saya tadi malam. Di perjalanan mereka bicara-bicara: apa yang harus disampaikan ke presiden.

"Kita harus bikin Imlek Nasional," ujar Budi Tanujaya. Mereka setuju.

Imlek, sampai hari itu masih dilarang untuk dirayakan.

Di Istana, soal Imlek itu disampaikan ke Presiden . "Beliau langsung setuju. Bahkan Imleknya beliau minta harus dua kali," kata Budi Tanujaya. "Imleknya di Jakarta. Cap Go Meh-nya di Surabaya," ujar seperti ditirukan Budi Tanujaya. Dua-duanya dihadiri presiden.

Natal saja satu kali. Kristen dan Katolik harus jadi satu. Waisak juga satu kali. "Imlek langsung dua kali," ujarnya lantas tertawa.

Budi Tanujaya kenal sejak lama. Ketika Budi punya proyek menerbitkan ensiklopedia Indonesia. Mereka sudah sering diskusi. " yang akan mengisi bab tentang Islam," ujar Budi. Tapi tidak punya cukup waktu. Lantas digantikan Dr. Nurcholish Madjid. Akhirnya tokoh pembaharu Islam lainnya, Johan Effendi, yang menulis di Ensiklopedia 18 jilid itu.

Budi Tanujaya adalah pimpinan pusat Matakin –Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia. "Saya dua kali jadi ketua umum tanfidziyah-nya. Satu kali jadi sekretaris syuriah-nya Matakin," ujar Budi mengutip istilah dalam NU.

Sekarang Budi menjadi ketua umum Konghucu Indonesia setelah tanfidziyah dan syuriah-nya dijadikan satu. Budi juga pernah jadi Wakil ketua umum Barongsai Indonesia ketika saya menjabat ketua umumnya.

Tidak hanya soal perkawinan dan Imlek, nama Bingky dianggap sebagai pahlawan besar Tionghoa. Juga soal KTP. Yang sejak itu agama Konghucu bisa dicantumkan di KTP.

Sedang soal perkawinan akhirnya berhasil juga. Dua pengadilan sebelumnya memang menolak perkawinan Konghucu. Tapi akhirnya Mahkamah Agung memutuskan mengesahkannya. Keputusan kasasi itu keluar memang sudah tahun 2000 –setelah yang jadi presiden.

Bingky Irawan telah meninggal dunia.

Bingky Irawan masih hidup abadi dengan jasa besarnya. (*)

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video