​Ingin Punya Lembaga Pendidikan Terbaik, Prof. Kiai Asep Ditertawakan Orang

Editor: Tim
Minggu, 07 Februari 2021 10:31 WIB

Kiai Asep saat memberikan mauidhah hasanah di Pondok Pesantren Muqimus Sunnah Palembang.

PALEMBANG, BANGSAONLINE.com - Prof. Dr. K.H. Asep Saifuddin Chalim, M.A., beserta rombongan kembali melakukan perjalanan ke daerah. Kali ini, Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Surabaya dan Pacet Mojokerto itu ke Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (6/2/2021) kemarin.

Kiai Asep tiba di Kota Palembang sekitar pukul 16.30 WIB. Pada malam harinya, Kiai Asep langsung diminta memberikan mauidhah hasanah di Pondok Pesantren Muqimus Sunnah Palembang. Di pesantren yang diasuh Dr. Izzah Zen Syukri itu, Kiai Asep berbicara di depan para santri.

Kiai Asep yang juga Ketua Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu menceritakan tentang suka dukanya membangun pondok pesantren. "Dahulu saya ditertawakan orang karena punya keinginan memiliki lembaga pendidikan terbaik," tutur Kiai Asep di depan para santri yang duduk lesehan di Aula Pondok Pesantern Muqimus Sunnah, Sabtu (6/2/2021) malam.

Kiai Asep memaklumi. "Karena saya saat itu hanya memiliki rumah kecil," kata Kiai Asep. Rumah itu berdiri di atas sebidang tanah di Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.

Namun Kiai Asep tak patah semangat. Putra K.H. Abdul Chalim Luwimunding, salah satu kiai pendiri NU itu bekerja keras untuk mewujudkan keinginan atau cita-citanya. Ternyata upayanya tak sia-sia. Pondok Pesantren yang didirikan pada 2006 di Pacet, Mojokerto itu mendapat kepercayaan masyarakat untuk mendidik anak-anaknya.

"Kini santri 12 ribu. Yang di Mojokerto 10 ribu, yang di Surabaya 2 ribu," kata Kiai Asep.

Bahkan, menurut Kiai Asep, sejak tahun 2011, Pondok Pesantren terus mendapat penghargaan nasional, baik sebagai lembaga pendidikan terbaik maupun terfavorit dan inovatif.

Kiai Asep berharap para santri memiliki cita-cita tinggi. Santri ke depan, kata Kiai Asep, harus cerdas, punya kualitas tinggi, dan menjadi pemimpin masa depan. Menurut Kiai Asep, santri harus menjadi ulama besar, pemimpin nasional dan dunia, profesional dan atau konglomerat.

Simak berita selengkapnya ...

1 2

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video