Tafsir Al-Quran Aktual Refleksi Idul Adha: Sudah Berkorban, Tapi Belum Berqurban

Editor: Redaksi
Kamis, 05 November 2020 22:26 WIB

Ilustrasi. foto: pelindo1.co.id

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

Hari raya sekarang ini punya dua nama: id al-adha (idul adha) dan id al-qurban (idul qurban). Id artinya pesta. Adha, udhiyah artinya menyembelih (korban). Qurb, qurbah artinya dekat. Jika sebuah masdar berpola ziyadah Alif dan Nun, maka bermakna mubalaghah (sangat, super). Kata qurb menjadi qurban, artinya sangat dekat. Qur'an, bacaan sungguhan. Ghufran, ampunan sungguhan. Subhan, suci sungguhan, maha suci.

Ibadah qurban adalah ibadah serius mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara menyembelih ternak sesuai syariah agama. Menyembelih binatang adalah lambang penyembelihan nafsu kebinatangan kita sendiri sehingga sterillah jiwa kita dari nafsu itu. Binatang tidak pernah bertanya, ini rumput siapa? Binatang juga tidak pernah bertanya, ini cewek siapa?, main santap.

Id ini punya dua dimensi: religius (qurban) dan sosial (adha). Kebanyakan yang kita pestai adalah "adha-nya", distribusi dagingnya, makan-makannya, dan itu benar. Tapi kita belum optimal berpesta (id) sisi religiusnya, sehingga tujuan utama id tersebut belum sempurna kita capai.

Dua id yang kita miliki (fitr dan adha) adalah kompensasi sekaligus koreksi dari dua hari pesta kaum kafir jahiliah dulu, yaitu hari raya Nairuz dan Miharjan. Pesta mereka dirayakan acara maksiat dan hura-hura, sementara pesta kita dengan bersedekah dan beribadah. Jika hari pesta ini masih berbau riya, pamer, gengsi dan hura-hura, maka perlu mengoreksi diri: ... masih "jahiliah"kah kita?.

Idul adha adalah pesta tahunan yang universal, di mana Tuhan ingin menjamu semua makhluq-Nya tanpa batas, "La yumna' khalq an ya'kulu". Makanya, kaum sufi dan beberapa ulama' salaf tidak membenarkan daging udhiyah di tanah Haram didistribusikan ke luar, walau di negara sana banyak manusia kelaparan.

Alasannya, karena yang dijamu Tuhan adalah semua makhluq-Nya, baik yang terlihat, maupun yang tidak terlihat. Tidak hanya manusia saja, melainkan hewan-hewan pengonsumsi daging segar, seperti binatang-binatang buas, burung-burung, sampai semut, dan hewan-hewan lain. Bahkan jin-jin di seluruh dunia menunggu pesta massal itu.

Maka alasan mubadzir, bagi paham ini dianggap tidak tepat. Sebab ukurannya bukan terbatas pada manusia saja. Madzhab ini mengajarkan kita bertindak dengan mempertimbangkan maslahah universal.

*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.