​Maulid Nabi Bid’ah, Tak Ada Dalilnya? Apa Sih Isi Acara Maulid itu?

Editor: MMA
Senin, 26 Oktober 2020 06:18 WIB

KH Afifuddin Muhajir. foto: MMA/ bangsaonline.com

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Beberapa orang yang baru belajar Islam atau Islam pemula - termasuk artis - sering memposting tentang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dianggap bid’ah. Mereka beranggapan bahwa Maulid Nabi adalah praktik keagamaan yang dilarang Islam karena tak ada dalilnya.

Benarkah? Lalu apa saja isi perayaan Maulid Nabi itu, kok dibid’ahkan?

KH Afifuddin Muhajir, pengarang sejumlah kitab fiqh, di antaranya Fathu al-Mujib al-Qorib, menegaskan bahwa perayaan Maulid itu terdiri dari lima acara.

Pertama, pembacaan beberapa ayat suci al-Qur'an. Kedua, pembacaan shalawat. Ketiga, pembacaan sirah (sejarah) Nabi. Keempat, penyampaian mau'idhah hasanah (pesan-pesan yang baik). Kelima, sedekah buah-buahan, makanan, minuman, dan lain-lain.

“Orang Islam yang masih normal pasti tahu bahwa hal-hal tersebut tidak dilarang dalam Islam. Bahkan sangat dianjurkan dengan anjuran yang sifatnya mutlak, yakni tidak dikaitkan dengan waktu dan tempat. Artinya, hal-hal tersebut bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, tak terkecuali pada bulan Rabi'ul awwal,” kata Kiai Afifuddin Muhajir yang sehari-harinya Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur, Senin (26/10/2020).

Tapi kenapa anjuran yang bersifat mutlak itu dilakukan pada bulan Rabiul Awwal? “Kebanyakan umat Islam lebih suka memilih tanggal 12 bulan Rabi'ul Awwal sebagai ajang pelaksanaan acara kegiatan semacam itu, karena mereka mempunyai keyakinan bahwa pada bulan dan tanggal itulah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan. Oleh sebab itu acara semacam ini dikenal dengan nama "Perayaan Maulid" yang sekalgus ditandai dengan ungkapan kegembiraan dan kesyukuran atas nikmat luar biasa; kelahiran junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam,” kata Kiai Afifudinn Muhajir. (MMA)