Qosim-Alif Siap Bantu Pasarkan Kerupuk Khas Bulurejo Benjeng

Editor: Yudi Arianto
Wartawan: M Syuhud Almanfaluty
Rabu, 21 Oktober 2020 21:36 WIB

Cabup Moh. Qosim (paling kanan) bersama para pembuat krupuk di Desa Bulurejo, Kecamatan Benjeng. foto: ist.

GRESIK, BANGSAONLINE.com - Cabup-Cawabup Gresik Nomor Urut 1, Moh. Qosim-Asluchul Alif (QA) siap membantu pemasaran kerupuk kanji produksi industri rumahan warga Desa Bulurejo, Kecamatan Benjeng.

Hal itu diungkapkan Cabup Qosim setelah mendengar keluhan Mujianto, salah satu pengusaha kerupuk kanji asal Desa Bulurejo, Kecamatan Benjeng, dalam sambung rasa QA dengan warga di Dusun Nyanyat, Desa Bulurejo, Kecamatan Benjeng, Rabu (21/10/2020).

Mujianto sangat berharap paslon Qosim-Alif bisa memperjuangkan aspirasi ini jika nanti mendapatkan amanah untuk memimpin Kabupaten Gresik lima tahun ke depan.

"Saya sangat senang sekali karena di dalam programnya Pak Qosim sama Dokter Alif salah satunya berbicara tentang pengembangan UMKM, yang di dalamnya termasuk masalah pemasaran," kata Mujianto.

Diakuinya, selama ini pemasaran usaha yang dijalankan dengan dibantu 15 karyawan tersebut masih antar kota dalam provinsi. Ia berharap ke depan pasarnya bisa semakin luas lagi. Tidak hanya di Lamongan, Mojokerto, Surabaya, dan Gresik, namun bisa tembus antar pulau.

"Kalau di Gresik sendiri biasanya dipasarkan hanya keliling kampung, antar pasar, dan desa," ungkap pengusaha yang sudah merintis bisnisnya selama 9 tahun tersebut.

Walaupun sudah terhitung cukup lama, tapi Mujianto mengaku belum mempunyai akses pemasaran ke toko modern. "Meski ini masih home industry, tapi berharap nantinya meningkat dan produk kami bisa masuk ke minimarket yang dilengkapi dengan brand lokal. Karena saat ini masih belum ada brand-nya, hanya dibungkus plastik saja," paparnya.

Dia juga berharap Qosim-Alif kalau dapat memfasilitasi dalam kemudahan proses izin kesehatan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dengan begitu nantinya akan bisa menembus pasar luar pulau.

Sejauh ini, tambah Mujianti, kendala lain adalah penjemuran. Sebab, ketika datang musim hujan, bahan kerupuk yang sudah dicetak dan dimasak tersebut harus dijemur terlebih dulu sebelum masuk penggorengan. "Sehari bisa enam kuintal, yang setiap satu kuintal harganya Rp 1 juta," tambahnya.

Menyikapi aspirasi pelaku UMKM tersebut, Qosim mengaku sudah menyiapkan program khusus berupa Kartu UMKM Bangkit sebagai solusi untuk membantu peningkatan usaha masyarakat Gresik. Dengan kartu itu, para pelaku UMKM diakomodir mulai dari kemudahan mendapatkan permodalan, pemasaran, termasuk di toko modern hingga perizinannya.

Selain itu, lanjut Qosim, pihaknya juga menyiapkan marketplace atau pemasaran via online khusus produk asli warga Gresik. "Di kartu itu nanti ada data pelaku UMKM yang akan dikembangkan oleh pemerintah. Doakan Pak Qosim ya," kata Qosim sambil menyapa warga sekitar. (hud/ian)