Waduk di Bojonegoro Kekeringan, Petani Tak Bisa Tanam Padi

Editor: Revol
Wartawan: Eky Nurhadi
Jumat, 23 Januari 2015 19:00 WIB

KOSONG: Salah satu waduk di Kecamatan Padangan, Bojonegoro belum terisi air. Akibatnya, para petani disekitar waduk terpaksa menunda masa tanam. Foto: Eky Nurhadi/BangsaOnline.

BOJONEGORO (BangsaOnline) – Pada musim penghujan awal tahun ini sejumlah waduk atau tampungan air di Kabupaten Bojonegoro belum penuh terisi air. Akibatnya, para petani banyak yang kesulitan mendapatkan air untuk menanam padi.

Waduk yang belum terisi air itu berada di wilayah barat Bojonegoro. Waduk Sonorejo di Desa Sonorejo, Kecamatan Padangan, Bojonegoro misalnya, hingga kini belum terisi air. Air hanya terlihat sedikit di dasar waduk. Namun, tampungan waduk seluas dua hektare itu terlihat masih kosong belum terisi air.

Menurut Karmadi (56), pengurus Himpunan Petani Pengguna Air (HIPPA) Desa Sonorejo, hingga kini kondisi Waduk Sonorejo masih belum terisi air. Padahal, kata dia, pada bulan Desember hingga Januari tahun sebelumnya biasanya waduk sudah terisi penuh air.

"Karena air di waduk kosong, petani tidak bisa mulai menanam padi," ujarnya, Jumat (23/1/2015).

Waduk Sonorejo itu menjadi penyuplai air irigasi untuk 200 hektare areal persawahan di Desa Sonorejo, Donan, Ngradin, Ngasinan, Cendono, dan Purworejo di wilayah Kecamatan Padangan.

Para petani, kata dia, memilih menunda menanam padi hingga kebutuhan air untuk mulai bercocok tanam terpenuhi. Karena mengalami keterlambatan masa tanam padi maka diperkirakan masa tanam padi pada tahun ini hanya bisa berlangsung sekali. Padahal, biasanya selama musim hujan petani bisa menanam padi selama dua kali.

"Karena pasokan air kurang maka produktifitas padi pada tahun ini berkurang," katanya.

Waduk lain yang berada di Desa Ngradin, Kecamatan Padangan juga sama, hingga kini juga belum terisi air secara penuh. Air terlihat hanya di dasar waduk. Sementara bentangan tampungan waduk seluas empat hektare itu terlihat masih melompong belum berisi air.

Tidak adanya pasokan air yang cukup di Waduk Ngradin itu membuat ratusan hektare areal persawahan kekurangan air. Para petani terpaksa menyedot air bawah tanah dengan memakai pompa bor. Namun, biaya untuk mengebor air bawah tanah itu lebih mahal dibandingkan dengan mengambil air dari waduk.

Kondisi Waduk Blibis di Dusun Glagah, Desa/Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, juga memprihatinkan. Hingga kini waduk yang berada di dekat kawasan hutan Kendung, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Padangan ini juga belum terisi air. Air hanya terlihat di kubangan di dasar waduk. Air yang sedikit itu diambil oleh petani dengan memakai mesin pompa diesel lalu dialirkan ke persawahan.

Menurut Suradi (60), petani di Dusun Glagah, sedikitnya persediaan air di Waduk Blibis itu karena curah hujan yang terjadi di wilayah Bojonegoro sejak Desember lalu hingga Januari sangat rendah.

"Kalau tahun lalu mulai Desember hujan sangat deras dan membuat waduk terisi penuh. Tetapi sekarang sampai mendekati akhir Januari curah hujan masih jarang-jarang. Bahkan, sekarang seperti terasa masih musim kemarau," ujarnya.

Menurutnya, akibat minimnya persediaan air di waduk itu membuat para petani di wilayah Kecamatan Purwosari urung menanam padi. Kalau pun nekat menanam padi saat ini banyak terlihat benih padi mengering karena kekurangan air.

"Sebetulnya saat ini sudah terlewat masa tanam padi. Tetapi mau bagaimana lagi, persediaan air untuk masa tanam padi tidak ada," tambahnya.