Mahfud MD: Sekarang Tak Ada Islam Phobia dan NU Phobia

Editor: MMA
Sabtu, 11 Juli 2020 22:24 WIB

Mahfud MD. foto: wikipedia

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan bahwa sekarang berbeda dengan Orde Baru. “Sekarang tidak ada Islam phobia dan NU phobia,” kata Mahfud MD saat jadi pembicara dalam Webinar bertema “Revitalisasi NU Menuju Pengabdian Abad Kedua seri ke-3” yang digelar Institut Hasyim Muzadi (IHM), Sabtu (11/7/2020) malam.

Pernyataan Mahfud MD itu merespons pertanyaan Dr KH Arif Jamhari (Gus Arif) terkait dengan Islam phobia. Mahfud lalu memberi contoh. “(NU) minta UU pesantren dikasihkan,” tegas Mahfud MD yang juga dikenal sebagai tokoh NU kultural. Sekarang, kata Mahfud MD, juga tidak ada yang melarang warga NU melakukan ritus-ritus keagamaan yang menjadi ciri khas NU seperti tahlilan dan sebagainya.

Mahfud juga menjelaskan situasi politik saat Orde Baru. Menurut dia, pada Orde Baru ada kooptasi politik, termasuk pada partai politik. Ia memberi contoh Golkar yang cenderung mengkooptasi semua institusi politik dan ormas. Menurut dia, saat itu semua di-Golkar-kan. Termasuk NU dan PPP.

Seperti diberitakan BANGSAONLINE.com, dalam Webinar yang dimoderatori Idy Muzayyad yang berada di Pondok Pesantren Cendekia Amanah Depok Jawa Barat yang diasuh Dr KH Cholil Nafis. Selain Mahfud MD yang tampil sebagai pembicara juga Pendeta Agus Santoso dan KH Abdul Fatah Muchit. 

Acara ini berakhir pada pukul 22.22 WIB dan diakhiri doa yang dipimpin KH Nabhan dari Batam. 

IHM banyak mengkaji tentang kiprah dan pemikiran Kiai Hasyim Muzadi terutama tentang sikap moderasi dan kearifannya sebagai tokoh nasional dalam merekatkan semua komponen bangsa.

IHM dipimpin oleh KH Yusron Shidqi (Gus Yusron), putra Kiai Hasyim Muzadi. Secara struktur formal Gus Yusron sebagai direktur eksekutif IHM. Selain Gus Yusron juga banyak tokoh-tokoh NU duduk sebagai pengurus. Antara lain: Prof. Dr. Rochmat Wahab, Dr. KH. Cholil Nafis, Dr. KH. Hariri Makmun, Dr. KH. Shofiyullah Muzammil, Ustdaz Hilmi Shidqi, Dr. KH. Fadlolan, Dr. KH. Arif Jamhari, Gus Muchlas Syarqun, Gus Idy Muzayyad dan tokoh-tokoh lain. (tim)