Seperti Flu, Covid-19 Tak Bakal Hilang dari Muka Bumi? Ini Saran Kiai Asep

Editor: MMA
Jumat, 03 Juli 2020 16:43 WIB

Para wali santri Madrasah Aliyah Amanatul Ummah saat mengikuti acara istighatsah yang dimpin Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.Ag., Kamis (3/7/2020) malam. foto: MMA/ bangsaonline.com

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Para wali santri Pondok Pesatren Amanatul Ummah Surabaya mengikuti istighatsah saat pengambilan rapot siswa Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Jalan Siwalankerto Utara Surabaya. Istighatsah itu dipimpin langsung Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.Ag., pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur, Kamis (2/7/2020) malam.

Namun karena untuk mematuhi protokol kesehatan Covid-19, para wali santri itu dibagi dua gelombang. Wali santri MTs dikumpulkan pada siang hari, sedang wali santri MA pada malam hari. Tempatnya pun di alam terbuka. Di halaman sekolah dengan lesehan.

Di Amanatul Ummah MA terdiri dari berbagai kategori. Antara lain MA Unggulan, bertaraf internasional dan akselerasi. “Masing-masing terdiri dari dua kelas,” tutur Kiai Asep kepada BANGSAONLINE.COM menjelaskan siswa MA di Amanatul Ummah Surabaya.

Saat memberi taushiyah, Kiai Asep lebih banyak membahas tentang Covid-19. Ia berdoa semoga virus corona segera lenyap dari muka bumi. Terutama dari Jawa Timur yang masih berstatus merah. Yaitu Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Jombang, Pasuruan, dan Situbondo.  

Menurut dia, ada seorang ahli yang mengatakan bahwa virus Corona tak akan pernah hilang dari muka bumi. “Seperti flu yang terus ada,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.

(Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.Ag)

Jika pendapat itu benar, menurut Kiai Asep, kita harus memasuki kehidupan normal baru dengan disiplin yang ketat. “Pertama, kita harus sesuai protokol Islam. Bagaimana protokol Islam itu? Islam itu bersih. Kita harus selalu bersih,” kata Kiai Asep di depan para wali santri yang duduk lesehan.

Artinya, jika kita biasanya mandi sekali dalam sehari semalam, maka harus mandi dua kali. “Jika kita biasanya mandi dua kali, maka kita harus mandi tiga kali,” katanya.

Kedua, kata Kiai Asep, kita harus mengikuti protokol kesehatan. “Bermasker, menjaga jarak, dan selalu bawa hand sanitizer,” pesan Kiai Asep.

Selain itu, Kiai Asep berpesan agar selalu makan menu yang sehat dan bergisi. Menurut Kiai Asep, makanan sehat itu tak selalu mahal. “Makan kecambah. Karena menurut dokter, kecambah itu menciptakan imunitas tubuh. Lalu makan telur, tahu, tempe,” tuturnya sembari mengatakan juga harus mengonsumsi vitamin C.

Selain menjaga imunitas, kata Kiai Asep, kita juga harus menjaga imanitas,yaitu mempertebal iman dengan upaya spiritual. “Banyak membaca istighfar, banyak membaca lahaula wala quwwata illa billah, dan laa ilaha illallah,” kata Kiai Asep.

Karena, kata Kiai Asep, sesuai Hadits, barang siapa yang membaca istighfar, maka kesusahan dan kegundahan yang menimpa akan berubah jadi bahagia. Kesulitannya akan diberi jalan keluar. “Kemudian Allah akan memberi rezeki yang tidak terduga,” tegas Kiai Asep.

Karena itu, baik santri maupun wali santri, harus banyak membaca istighfar. “Agar rejeki orang tua lancar, orang tua yang punya hutang bisa membayar,” katanya.

Usai acara, Kiai Asep kepada BANGSAONLINE.com menjelaskan bahwa protokol kesehatan sangat ketat di Amanatul Ummah. Semua guru harus mematuhi standar kesehatan Covid-19. Antara lain memakai masker, face shield, selalu cuci tangan dan rapid test. “Kalau reaktif kita berhentikan,” tegas Kiai Asep. Maksudnya, bukan dipecat, tapi tidak diperbolehkan mengajar sampai sembuh atau negatif. Jika sudah sembuh diperbolehkan mengajar lagi. 

Kiai Asep juga menjelaskan bahwa santri baru sudah mencapai 3.100 orang. “Ya sesuai kapasitas gedung,” katanya. Kini ia terus membeli tanah dan rumah di sekitar pondok pesantren Amanatul Ummah, baik di Surabaya maupun di Pacet Mojokerto.

“Rumah di depan ini sudah saya beli,” katanya sembari menunjuk rumah yang letaknya persis di depan kediaman Kiai Asep di Jalan Siwalankerto Utara. Rumah berukuran 170 meter persegi itu dibeli dengan harga miliaran rupiah.

“Banyak rumah yang sudah saya beli,” katanya menunjuk beberapa rumah yang sudah menjadi aset Kiai Asep. Menurut Kiai Asep, rumah-rumah itu dibeli untuk perluasan pondok pesantren Amanatul Ummah.

Rumah-rumah yang dibeli itu langsung direnovasi dan dibangun. Selain ditempati putra-putrinya juga untuk asrama santri. Karena itu rumah-rumah yang sudah dibangun kembali itu dipasang spanduk bertuliskan Asrama Santri Amantul Ummah. (MMA)