​Ikhtiar Usir Covid-19, Ulama Tujuh Daerah Zona Merah Kumpul di Amanatul Ummah

Editor: MMA
Jumat, 26 Juni 2020 16:14 WIB

Para kiai saat salat malam 12 rakaat, enam kali salam plus salat witir tiga rakaat, dua kali salam di Masjid Raya KH Abdul Chalim Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Jawa Timur, Kamis (25/6/2020) malam. foto: MMA/ bangsaonline.com

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Puluhan ulama dari tujuh daerah yang kini bersatus zona merah covid-19 berkumpul di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Jawa Timur, Kamis (25/6/2020) malam. Mereka memenuhi undangan Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.Ag untuk bermunajat kepada Allah SWT agar virus corona segera lenyap dari bumi Indonesia, terutama Jawa Timur.

Tujuh daerah itu adalah Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Pasuruan Jombang dan Situbondo. Acara munajat itu sendiri digelar di Masjid Raya KH Abdul Chalim yang terletak di bagian Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto.

“Kita terus ikhtiar berdoa agar tujuh daerah itu segera menjadi zona hijau,” kata Kiai Asep Saifuddin Chalim saat memberikan taushiyah. Acara munajat itu diawali khataman al-Quran para santri Amanatul Ummah.

Salat malam itu digelar setelah salat jemaah isya’, sebanyak 12 rakaat, 6 kali salam. Lalu salat witir 3 rakaat dengan 2 kali salam. Usai salat malam dilanjutkan istighatsah yang dipimpin Kiai Asep Saifuddin Chalim.

Munajat itu diakhiri doa yang dipimpin secara bergantian para kiai dari tujuh daerah tersebut. “Masing-masing daerah satu kiai yang memimpin doa karena waktunya tak cukup,” kata Kiai Asep yang juga memukasi memimpin doa.

Tampak hadir Dr KH Ahrar Mukarrom (Ketua Senat Uninsa Surabaya), KH. Muhamad Roziqi (Ketua Dewan Masjid Indonesia Jawa Timur), Dr. KH. M. Sujak (Kepala Badan Pengelola Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya).

Kemudian KH. Ahyar (Surabaya), KH Jamaluddin (Rais Syuriah PCNU Probolinggo), KH Abdul Adzim Alwi (Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto), Dr Zakaria Muhtadi (Institut Agama Islam Al-Khoziny Sidoarjo), KH Alwi, KH Ahmad Sururi (Ketua Pergunu Jawa Timur) dan para kiai lain.

Hadir juga Ketua PC Muslimat NU Kota Surabaya, Nyai Hj Lilik Fadilah, Wakil Ketua Muslimat PCNU Surabaya Nyai Hj Masfufah Hasyim dan para ibu nyai yang lain.

Menurut Kiai Asep, munajat ini akan terus dilakukan. “Setiap minggu dua kali. Malam Senin nanti di Surabaya sekalian aqiqah cucu saya,” tegasnya sembari menegaskan bahwa tempatnya akan bergantian antara di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Mojokerto. Kiai Asep memang pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto.

Kiai Asep sangat aktif memoblisasi para kiai untuk munajat kepada Allah SWT karena virus corona di Jawa Timur masih merajalela. Menurut Kiai Asep, covid-19 cukup tinggi karena masyarakat banyak tidak mematuhi protokol kesehatan.

“Banyak yang gak pakai masker. Menurut temuan Fakultas Kesehatan Masyarakat (Unair), 70 persen masyarakat Surabaya Raya tidak pakai masker dan 84 persen tidak melakukan phisycal distancing,” tegas Kiai Asep.

Mendengar wejangan Kiai Asep itu, beberapa kiai yang ikut salat malam langsung memperbaiki letak maskernya.

Kiai Asep kembali mengingatkan Walikota Surabaya Tri Rismaharini tentang pentingnya bagi-bagi masker secara gratis. “Mungkin Bu Risma (Wali Kota Surabaya) tak sampai mikir ke situ, seharusnya para stafnya yang melakukan bagi-bagi masker secara gratis. Kalau jumlah warga Surabaya kan cuma Rop 9 miliar,” katanya sembari mengatakan bahwa harga masker Rp 3.000.

Acara salat malam itu selain diikuti para ulama dari tujuh daerah zona merah juga diikuti para ustadz dan satri Amanatul Ummah. Namun karena untuk menjaga jarak, para ustadz dan santri itu ditempatkan di teras masjid bagian kanan dan kiri. “Lurus tapi jarang,” kata Kiai Asep mengomando para jemaah salat malam. (MMA)