Ketua DPAC Kebomas Bangga Sekaligus Kecewa 2 Kader PKB Maju di Pilbup Gresik

Editor: .
Wartawan: Syuhud
Sabtu, 30 Mei 2020 19:37 WIB

Ketua DPAC PKB Kebomas, Ahmad Zainudin Fuad (baju putih, berdiri di belakang) bersama para pengurus PKB dalam suatu acara, beberapa waktu lalu. foto: SYUHUD/ BANGSAONLINE

GRESIK, BANGSAONLINE.com - Ketua DPAC PKB Kecamatan Kebomas, Akmad Zainudin Fuad mengaku bangga dan mengapresiasi adanya 2 kader PKB yang bakal maju menjadi bakal calon bupati (bacabup) di Pilbup Gresik 2020. Keduanya adalah, Ketua DPC PKB Gresik Moh. Qosim, dan Ketua DPRD Gresik Fandi Ahmad Yani.

"Apabila benar nanti itu terjadi (Qosim dan Yani) yang bertarung pada Pilbup Gesik, maka kami bangga dan mengapresiasi karena ternyata tidak ada kader lain untuk runring menjadi bacabup di Pilkada Gresik. Ini artinya, siapa pun yang memenangi Pilbup Gresik, maka PKB yang menang," ungkap Akmad Zainudin Fuad kepada BANGSAONLINE.com, Sabtu (30/5).

Namun demikian, sebagai kader PKB, dirinya juga kecewa adanya dua kader yang maju secara bersamaan sebagai bacabup. Sebab, nantinya DPP PKB tak akan merekom 2 kader untuk running sebagai cabup. Dengan begitu, akan ada salah satu kader yang harus berangkat dari partai politik (parpol) lain.

"Saya merasa kecewa, karena tentu salah satu dari mereka bisa dipastikan maju bukan atas rekom PKB, karena satu partai hanya untuk satu rekom pasangan calon," tegas kader senior PKB Gresik ini.

Fuad menyayangkan, apabila nantinya ada salah satu kader PKB yang ngotot berangkat dari parpol lain, setelah tak mendapatkan rekom dari DPP. "Kalau nanti faktanya demikian, kita semua menghormati itu sebagai hak warga negara," terangnya.

Dikatakan Fuad, sebagai kader, loyalitas terhadap partai juga akan diuji menghadapi masa pilkada seperti ini. "Mengkhianati atau mengawal kesepakatan itu adalah untuk kemaslahatan bersama. Sebaliknya, akan menjadi preseden dan catatan buruk apabila seorang kader menghianati kesepakatan tersebut apapun dalihnya. Baik itu alasan untuk pengabdian dan kepentingan rakyat. Sehingga, pada akhirnya akan memecah belah kader sendiri. Bukankah mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada menarik kebaikan?," jelasnya.

Fuad lantas mengutip pernyataan Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) semasa hidup. "Gus Dur bilang, tingginya apa jabatan Presiden sampai mengorbankan manusia, dan seterusnya. Kalau kita kiaskan (analogikan) ke lingkup lebih kecil, tingginya apa jabatan bupati sampai melakukan hal seperti itu," ungkap Fuad memberikan gambaran.

Menurutnya, pengabdian dan perjuangan ke arah lebih baik untuk Kabupaten Gresik tidak harus dilakukan dengan menjadi bupati, akan tetapi bisa melalui DPRD, partai, LSM, wartawan, dan seterusnya.

"Ambisi dan sahwat politik berkuasa tak bisa dibungkus dengan casing para pendukung. Saya yakin kader-kader PKB mempunyai pemikiran dan pertimbangan yang matang demi kehormatan diri, partai, dan para konstituennya. Saya menyadari godaan kekuasaan memang sangat menggiurkan, apalagi dengan dininabobokan para pendukung yang memberi angin surga," paparnya.

"Untuk itu, di sini perlu adanya kematangan berorganisasi dan beripikir secara rasional, bukan secara emosional. Saya masih punya keyakinan, bahwa semua kader PKB tetap akan satu pada saatnya, dan hiruk pikuk yang terjadi sekarang hanya godaan dan ujian untuk para kader-kader terbaiknya," pungkasnya. (hud)