Jelang Ramadhan, Satgas Pangan Kabupaten Mojokerto Sidak Pasar Pantau Harga Gula

Editor: Revol Afkar
Wartawan: Rochmad Aris
Minggu, 12 April 2020 18:22 WIB

Kabid Usaha perdagangan Drs. Trio Froni bersama Tim Satgas Pangan saat sidak pasar.

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Dalam menyambut Bulan Ramadhan, Tim Satuan Tugas (Satgas) Pangan Kabupaten melakukan langkah proaktif dengan menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pasar di Kabupaten Mojokerto, Ahad (12/4).

Hal Ini dilakukan menindaklanjuti naiknya harga gula di pasaran yang sudah mencàpai Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram. Angka ini melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) gula Rp 12.500 per kilogram.

Bersama satuan kerja terkait, Tim Satgas Pangan terdiri dari Kepolisian, Satuan Polisi Pamong (Satpol PP), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), dan Dinas Pertanian (Dispari) mengecek harga gula di masing-masing pasar yang ada di wilayah ini. Tim Satgas juga ke Pabrik Gula Gempolkerep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

Kabid Usaha Perdagangan Disperindag Kabupaten Mojokerto Drs. Trio Froni Y.D., M.Si., mengatakan, sidak ini dimulai sejak tanggal 10 April 2020. Tujuannya untuk memantau langsung harga gula di pasaran.

Menurutnya, satgas berusaha untuk mencari jalan keluar untuk menstabilkan harga gula. "Kami akan memantau langsung di lapangan secara rutin maupun berkala, mengenai harga gula. Tujuan kami adalah, berusaha agar harga gula kembali normal. Apalagi, sebentar lagi memasuki bulan suci Ramadhan," kata Pak Froni, sapaan akrabnya, Ahad (12/4).

Froni mengatakan, pemerintah tidak bisa mengintervensi secara langsung tingginya harga gula di pasaran, karena sudah menjadi mekanisme pasar. Pemerintah hanya bisa mengimbau dan melakukan operasi pasar dalam upaya menstabilkan harga.

"Dengan kondisi saat ini, Operasi Pasar (OP) tidak maksimal lantaran akan mengundang kerumunan massa. Karena itu, kami terus berusaha maksimal untuk stabilkan harga gula," tegasnya.

Hal yang sama disampaikan Bupati Mojokerto, Pungkasiadi. “Intervensi pusat, pemda tidak bisa apa-apa. Jika ada OP hanya satu produk saja, dan OP tidak bisa membuat harga murah. Ngomong gula memang kebutuhan nasional dan mencari tidak mudah. Saat ini barang ada tapi tidak banyak,” tegasnya. (ris/rev)