Satgas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Gresik Minta Kades Larang Perantau Pulang

Editor: Revol Afkar
Wartawan: Syuhud
Minggu, 29 Maret 2020 16:19 WIB

Komandan Satgas Penanganan Covid-19 Gresik Nadlif, didampingi Sekretaris Saifudin Ghozali, serta Kabag Humas dan Protokol Reza Pahlevi saat memberikan keterangan pers, Kamis (26/3) lalu. foto: SYUHUD/ BANGSAONLINE

GRESIK, BANGSAONLINE.com - Pemkab Gresik melalui Satgas Pencegahan Covid-19 mengeluarkan Surat Edaran (SE) kepada Kepala Desa (Kades) dan Lurah agar melarang warganya yang merantau untuk pulang kampung ke Gresik.

"Kami sudah keluarkan SE itu," ujar Komandan Satgas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Pemkab Gresik, Nadlif kepada BANGSAONLINE.com, Ahad (29/3).

Nadlif meminta agar para Kades dan Lurah memberitahukan kepada warga mereka yang bekerja di perantauan, baik di luar Jawa Timur maupun Luar Negeri (LN), agar tak pulang kampung. "SE itu melarang warga yang berada di luar daerah dan luar negeri pulang di saat pandemi Corona," terang Plh Sekda Gresik ini.

Nadlif mengungkapkan, bahwa Satgas Pencegahan Covid-19 saat ini terus bekerja keras untuk mencegah meluasnya sebaran Corona setelah 1 PDP meninggal dan 2 pasein dipastikan terjangkit virus Corona (Covid-19).

Upaya pencegahan seperti dengan menyemprotkan disinfektan, dan imbauan agar masyarakat tetap di rumah, menghindari kerumunan massa, dan jaga jarak aman (physical distancing).

Pemkab Gresik juga mencegah masuknya warga dari negara isolasi (lockdown) dan daerah zona merah sebaran Covid-19. Larangan itu berlaku juga untuk warga asli Gresik.

Negara yang saat ini tengah lockdown di antaranya, Malaysia, dan Arab Saudi. Sementara daerah luar Jawa Timur yang masuk zona merah adalah DKI Jakarta.

"Jadi, kami telah melarang masyarakat yang bekerja di negara atau daerah dimaksud untuk pulang sampai Indonesia, hingga tempat mereka bekerja aman dari Covid-19," pungkasnya.

Sekadar diketahui, hingga Sabtu (27/3) pukul 15.00 WIB, warga Kabupaten Gresik yang positif terjangkit virus Corona (Covid-19) berjumlah 2 orang. Sebelumnya, 1 PDP juga meninggal saat menjalani perawatan isolasi di RS.

Sementara untuk orang dalam risiko (ODR) Corona sebanyak 706, orang dalam pemantauan (ODP) 132, dan pasien dalam pengawasan (PDP) 24 orang. (hud/rev)