Jelang Imlek, Produsen Dupa di Jombang Kebanjiran Order

Editor: Revol Afkar
Wartawan: Aan Amrulloh
Selasa, 21 Januari 2020 11:32 WIB

Fachrur Rohman (26), pengrajin dupa asal Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang mengaku kebanjiran order jelang Hari Raya Imlek.

JOMBANG, BANGSAONLINE.com - Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting bagi orang Tionghoa. Pada tahun ini, perayaan Imlek jatuh pada 25 Januari 2020 mendatang.

Menjelang hari perayaan tersebut membawa berkah tersendiri bagi pengrajin rumahan yang ada di Jombang, yang memproduksi alat peribadatan berupa dupa. Permintaan pun terus meningkat, hingga saat ini sudah mencapai 3 ton.

Seperti yang dirasakan oleh Fachrur Rohman (26), pengrajin dupa asal Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang ini. Ia mengungkapkan, melonjaknya permintaan dupa yang ramai datang dari Pulau Bali. Peningkatannya hingga 300 persen dari bulan biasa.

“Menjelang Imlek ini, paling banyak kuil-kuil dan orang-orang yang beribadah menggunakan dupa. Melonjaknya permintaan hingga hampir 300 persen," ucapnya saat diwawancarai di lokasi produksi, Selasa (21/01/20).

Saat ini, lanjut Rohman, konsumen memesan dupa yang khusus Imlek ini tidak dalam bentuk kemasan seperti biasanya, melainkan pesanan dalam skala kiloan. Belum sebulan, permintaan dupa sudah mencapai 3 ribu kilogram atau 3 ton.

“Terakhir ini tadi pesanan dari Bali hampir 1 ton, sebelumnya sudah ada sebanyak 2 ton,” tuturnya.

Sementara, dupa yang diproduksi oleh Rohman ini terbilang cukup berbeda dari dupa pada umumnya. Ia khusus menggunakan kayu gaharu sebagai bahan dasarnya yang ia datangkan langsung dari Kalimantan. Untuk membuat dupa, kayu gaharu terlebih dahulu digiling di mesin penggiling untuk menjadi serbuk kayu.

Setelah itu, serbuk kayu gaharu diolah menjadi adonan, dan kemudian didiamkan di dalam tong plastik hingga aroma harum gaharu keluar. Kemudian untuk proses selanjutnya, adonan kayu gaharu tersebut direkatkan ke lidi dari bahan bambu. Sedangkan cetakan dupa sendiri dengan ukuran diameter 4 milimeter dan panjang 30 sentimeter.

Pada proses terakhir adalah penjemuran. Selama penjemuran ini, juga dilakukan dengan cara khusus, yakni hanya menggunakan suhu ruangan tanpa terkena sinar matahari. Ini dilakukan untuk menjaga kualitas kayu gaharu agar tidak berbau gosong saat dipakai.

“Saya sengaja pilih kayu gaharu karena aromanya alami, bisa membuat aroma terapi. Dalam Islam sendiri sebagai Sunah Nabi,” terang Rohman.

Dikatakan Rohman, harga per kilogram dupa gaharu ini bervariasi tergantung kualitasnya. Untuk dupa berkualitas rendah dirinya mematok harga Rp 20-25 ribu per kilogram, sedangkan dupa berkualitas bagus bisa mencapai Rp 100-500 ribu per kilogram.

"Kalau omzet kotor ini mencapai 75 juta. Pendapatan bersihnya ya sekitar 40 persen dari penjualan kotor," pungkasnya. (aan/rev)