Goa Jepang, Aset Wisata Songgoriti Kota Batu yang Terpendam

Editor: Abdurrahman Ubaidah
Wartawan: Agus Salimullah
Senin, 20 Januari 2020 10:16 WIB

Salah satu lokasi goa Jepang di Songgoriti yang masih tertutup semak belukar.

KOTA BATU, BANGSAONLINE.com - Lembah Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu tidak hanya menyimpan potensi wisata pemandian air panasnya yang sangat terkenal itu.

Satu aset wisata terpendam Kota Batu yang belum tergali adalah 7 goa Jepang di kawasan hutan Torong yang saat ini belum tersentuh wisatawan.

"Ya, Songgoriti punya obyek wisata sejarah, yakni goa Jepang yang hingga saat ini belum tersentuh. Jika itu dikelola secara maksimal, saya yakin akan banyak menyedot wisatawan," ungkap Dian Saraswati, Lurah Songgokerto kepada BANGSAONLINE.com, Senin (19/1/2020).

Pihaknya belum berani mengelola aset goa Jepang tersebut, karena lokasinya berada di wilayah Perhutani, tepatnya di kawasan hutan Torong, Dukuh Songgoriti. "Dibutuhkan koordinasi terlebih dulu dengan pihak Perhutani karena goa itu berada di wilayahnya," ujarnya.

Menurutnya, geliat wisata Songgoriti saat ini masih belum maksimal. Hal itu dikarenakan banyak aset wisata seperti Candi Supo yang tidak terawat. "Sebenarnya warga ingin membenahi aset-aset wisata di wilayah ini. Namun, warga terganjal oleh kepemilikan aset wisata tersebut yang merupakan aset Pemkab Malang," jelasnya.

Pijan, Ketua LPMK Songgokerto mendukung niat pihak kelurahan menggali obyek wisata baru di Songgoriti berupa goa Jepang. Goa tersebut diperkirakan sebagai bunker tentara Jepang.

Ada sebanyak 7 goa yang terdapat di kawasan hutan tersebut, dan salah satu goa ada yang memiliki panjang 1.000 meter.

"Goa Jepang itu nanti akan melengkapi obyek wisata sejarah yang sudah ada di Songgoriti berupa candi. Jika dikelola dengan baik, saya yakin akan banyak menyedot wisatawan," ungkapnya.

Sementara itu, Fahmi, wisatawan asal Kota Malang juga mendukung pengembangan wisata Songgoriti.

"Menurut saya Songgoriti tidak hanya mengandalkan pemandian air panas saja. Sudah saatnya di tempat itu ada obyek yang tematik. Misalnya ada kampung Papua. Ini sangat potensial, karena di Batu maupun di Malang banyak siswa dan mahasiswa asal Papua. Tinggal bagaimana pengelola memanfaatkan keberadaan mereka untuk pengembangan kampung Papua di Songgoriti," ujar mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Malang ini. (asa/dur)