​Dikukuhkan Guru Besar, Kiai Asep Bakal Undang 1,000 Kiai-Tokoh, Inilah Orasi Ilmiahnya

Editor: MA
Rabu, 15 Januari 2020 16:17 WIB

Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA saat orasi pada Deklarasi Jokowi-Ma'ruf se-Tapal Kuda di Pondok Pesantren Nurul Qornain Jember Jawa Timur, Kamis (22/11/2018). Foto: M Mas'ud Adnan/BANGSAONLINE.com

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Mojokerto Jawa Timur bakal dikukuhkan sebagai guru besar (profesor) oleh Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) Surabaya. Pengukuhan gelar akademik tertinggi itu bakal digelar pada 29 Februari 2020 di Sport Center UINSA Jalan A Yani Surabaya. Semula pengukuan itu akan digelar 8 Februari, namun setelah dirapatkan lagi diputuskan 29 Februari 2020. “SK-nya turun saat saya umroh,” kata Kiai Asep Saifuddin Chalim kepada BANGSAONLINE.com di ruang tamu kediamannya di Pacet Mojokerto.

Kiai kaya raya yang sangat dermawan itu baru saja pulang umroh bersama para relawan Jaringan Santri Nasional (JKSN) dan Muslimat NU. Semua biaya umroh relawan JKSN dan Muslimat NU itu ditanggung Kiai Asep."Semuanya berjumlah 38 orang. Tapi sebagian sudah berangkat sebelumnya," tutur Kiai Asep.

Sambil rebahan di ruang tamunya pada Senin malam (13/1/2010) kiai milyarder yang dermawan itu menuturkan kepada BANGSAONLINE.com bahwa acara pengukuhan guru besar itu akan mengundang 1000 kiai dan para tokoh nasional. Namun informasi terakhir undangan membengkak menjadi 1.360 orang.

Siapa saja tokoh yang bakal diundang, kiai? “Bu Khofifah, Gus Sholah, Kiai As’ad Ali, Pak Mahfud MD, Kiai Said Aqiel, Pak Nuh,” tutur Kiai Asep menyebut beberapa tokoh nasional yang sudah masuk daftar undangan VVIP. Saat menyampaikan itu, Kiai Asep ditemani isteri tercintanya, Nyai Alif Fadlilah dan para putri serta menantunya.

(Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA saat menerima silaturahim Prof Dr Mahfud MD di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya pada Ahad sore (1/7/2018). Saat itu Mahfud MD belum menjadi Menkopolhukam. foto: MA/BANGSAONLINE.com)

Dalam naskah yang diberikan kepada BANGSAONLINE.com, Kiai Asep akan menyampaikan orasi ilmiah berjudul Model Pendidikan dalam Mengatasi Problematika Masa Kini dan akan Datang (Pada Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet).

Yang menarik, Kiai Asep banyak menyinggung tentang revolusi industri 4.0 dalam naskah orasi ilmiahnya. “Istilah Revolusi Industri 4.0 digunakan sebagai tema utama pada pertemuan World Economic Forum (WEF) tahun 2016 di Dawos, Swiss,” tulis Kiai Asep. Sejak itu, beberapa negara melakukan keputusan mendorong industrinya menuju Revolusi Industri 4.0. Antara lain: Negara Jerman, Amerika Serikat, China, India, Jepang, Korea Selatan, Vietnam dan lainnya.

“Revolusi Industri 4.0 ini kemudian menimbulkan perubahan radikal dalam proses desain dan manufaktur produk maupun jasa melalui Cyber Physical System (CPS) dan Internet of Things and Service (Lot and Ios),” tulis Ketua Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Pusat yang dikenal fashih bahasa Inggris dan Arab itu.

(Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA saat acara silaturahim dengan para pengurus Muslimat NU se-Kota Surabaya di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya. foto: M. Mas'ud Adnan/ BANGSAONLINE.com)

Dari masalah itu, Kiai Asep lalu menawarkan model pendidikan yang berorientasi pada pemecahan masalah. Pertama, pemecahan masalah globalisasi. Menurut dia, dalam perspektif ekonomi, globalisasi telah menciptakan persaingan semakin luas dan tajam. Sedang secara politik, globalisasi membuka arus ideologi dunia mengalir masuk dengan bebas ke tengah masyarakat sehingga menimbulkan pergeseran ideologi yang selama ini dianut masyarakat.

“Dampak buruk ini harus ditangkal dengan cara melalui pendidikan politik, kewarganegaraan dan wawasan kebangsaan pada berbagai jenjang pendidikan,” tulisnya.

Kedua, masalah radikalisme. Menurut Kiai Asep, berdasarkan pernyataan Ketua BIN, 30 % mahasiswa terpapar paham radikalisme. Untuk mengatasi ini, Kiai Asep menawarkan penyelesaian melalui konsep Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja). “Pemerintah harus segera merumuskan strategi anti-radikalisme melalui pendidikan wawasan kebangsaan dan bisa dipertimbangkan untuk mengadopsi prinsip-prinsip ajaran Aswaja,” katanya.

Ketiga, pemecahan masalah kerusakan lingkungan. Kiai Asep mengupas panjang lebar tentang kerusakan lingkungan dalam makalah aslinya (bukan ringkasan). Menurut Kiai Asep, kerusakan lingkungan sangat parah. Ia menyinggung tentang kepunahan spesies, penangkapan ikan berlebihan (overfishing), penipisan lapisan ozon, pemanasan global (the global warming) dan seterusnya.

“Beberapa Negara industri maju telah melakukan pertemuan di Rio de Jeneiro pada 1992 untuk bersepakat mengurangi kontribusi emisi CO2. Namun perjanjian ini tidak berjalan baik. Pada tahun 2000 diperoleh bukti bahwa Amerika Serikat justeru memberikan kontribusi 10% lebih tinggi dari tingkat emisi CO2 pada 1990,” tulis putra kiai salah satu pendiri NU, KH Abdul Chalim Luwimunding Majalengka Jawa Barat itu.

Karena itu, Kiai Asep menawarkan solusi dalam pendidikan Indonesia. Yaitu membangun peserta didik menjadi insan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan melalui pengembangan pengetahuan dan perubahan sikap. “Pemerintah dalam hal ini kementerian yang berhubungan dengan pendidikan dan masalah lingkungan hidup harus segera merumuskan kurikulum yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan bagi seluruh jenjang pendidikan,” katanya sembari mengatakan pentingnya membentuk mata pelajaran atau kuliah ilmu lingkungan hidup.

(Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA saat acara silaturahim dengan para pengurus ranting NU se-Kota Surabaya di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya, (29/8/2018). foto: M Mas'ud Adnan/BANGSAONLINE.com)

Keempat, pemecahan masalah pengembangan soft-skill. Mengutip pendapat para ahli, Kiai Asep mengatakan bahwa soft-skills atau people skills dibagi dua jenis, yaitu intrapersonal skills dan interpersonal skills.

“Intrapersonal skills adalah ketrampilan seseorang dalam mengatur dirinya sendiri agar menjadi lebih baik,” katanya. Karena itu ia mengusulkan agar intrapersonal skills ini dibenahi terlebih dahulu sebelum seseorang berinteraksi dengan orang lain. Ia juga menyarankan agar materi soft skills ini juga menyertakan pelajaran agama, bahasa Indonesia dan ilmu komunikasi dan sebagainya.

Kelima, masalah kesenjangan generasi: Milenial, Z dan Alpha. “Ini perlu mendapat perhatian. Generasi Y, Z dan Alpha memiliki ciri-ciri akrab dengan teknolosi informasi dan digital, percaya diri yang tinggi, live for the present, terbuka, instan, reaktif, multi-tasking dan beberapa karakter lain sangaf berbeda generasi X yang lahir pada kurun waktu 1965-1976,” tulis mantan ketua PCNU Kota Surabaya yang pernah menjadi anggota DPRD Kota Surabaya itu.

Keenam, pemecahan masalah industri 4.0. “Pemerintah harus mengambil inisiatif cepat untuk melakukan perombakan kurikulum dan panduan model pembelajaran agar tidak ketinggalan dengan negara berkembang lainnya seperti Vietnam, Malaysia, Thailand dan India,” tulis Kiai Asep.

Ia mengusulkan agar pendidikan Islam memilih strategi “double track”, yakni dalam kurikulum memasukkan pendidikan vokasi dengan mata pelajaran teknologi informasi dan digital. Dengan demikian pendidikan Islam tidak hanya paham agama tapi juga kompeten dalam bidang teknologi informasi dan digital sebagai modal memasuki pasar tenaga kerja. (M Masud Adnan)