Gali Tanah untuk Septic Tank, Warga Jember Temukan Batu Kenong

Editor: .
Wartawan: Muhammad Hatta
Senin, 13 Januari 2020 15:33 WIB

Batu Kenong yang ditemukan warga Dusun Tegal Bago, Desa/Kecamatan Arjasa, Jember dibiarkan teronggok.

JEMBER, BANGSAONLINE.com - Warga Dusun Tegal Bago, Desa/Kecamatan Arjasa, Jember, Jawa Timur menemukan benda bersejarah saat sedang membangun septic tank di sekitaran rumah, Minggu (12/1/2020) kemarin. Diketahui benda bersejerah itu adalah sebuah Batu Kenong berukuran kurang lebih 60 x 50 cm, dan diketahui merupakan peninggalan budaya megalitik.

Bentuk batu itu silinder atau membulat dengan tonjolan di puncaknya, menyerupai salah satu alat musik gamelan, kenong.

Batu itu pun kini hanya dibiarkan di pekarangan rumah, karena penemu batu itu bingung harus melaporkan penemuannya ke mana. Informasi penemuan batu bersejarah itu hanya diposting di media sosial, dengan harapan ada yang bisa menginformasikannya secara benar.

"Saat itu pak tukang lagi menggali tanah untuk dibuat septic tank. Kira-kira dapat setengah meteran menggali, linggis yang digunakan untuk menggali tanah membentur benda keras. Sempat kita kira batu besar biasa," kata cucu pemilik rumah, Fiki saat dikonfirmasi wartawan, Senin (13/1/2020).

Saat digali lebih dalam, lanjut Fiki, ternyata benda tersebut merupakan batu kenong. Akhirnya proses pembuatan saptic tank dihentikan dulu. Pekerja berupaya mengangkat batu itu ke permukaan tanah.

"Saat ditemukan Minggu kemarin itu, kita bingung mau lapor ke mana. Hari ini kita kemudian upload (unggah, red) di medsos, agar ada informasi," ungkapnya.

Menurut Fiki, penemuan batu yang menyerupai bentuk gamelan ini ada kaitannya dengan cerita rakyat tentang Panji Laras. "Dia itu (Panji Laras, red), dipercaya orang sebagai leluhur yang tinggal di Arjasa pada masa kerajaan dan sempat membangun padepokan di wilayah sini," katanya.

Bahkan dari penuturan Fiki, puing-puing yang diduga padepokan dari Panji Laras masih tersisa hingga sekarang. Dari situlah, kemudian dirinya menilai ada kemiripan antara batu yang ia temukan dengan batu pada puing padepokan.

"Penemuan batu ini juga tidak hanya sekali ini mas, beberapa kali warga lainnya juga punya pengalaman sama, tapi diletakkan begitu saja karena bingung mau lapor ke mana," tukasnya. (ata/yud)