​Iran akan Serang AS, Jenderal Iran Qassem Suleimani Dibunuh dengan Drone atas Perintah Trump

Editor: Choirul
Jumat, 03 Januari 2020 17:42 WIB

Jenderal Iran terkuat, Qassem Suleimani dalam satu kesempatan. foto: theguardian

BANGSAONLINE.com - Presiden AS Donald Trump memerintahkan untuk menghabisi orang-orang terkuat Iran. Serangan di luar bandara Baghdad dengan menggunakan drone, mengincar Jenderal Iran terkuat, Qassem Suleimani. Saat itu, sang Jenderal bersama beberapa panglima faksi militer, dalam mobil di luar bandara Baghdad, diserang melalui tembakan drone, Jumat (3/1/2020) beberapa jam lalu.

Jenderal Suleimani saat ini menjalankan operasi militer Iran di Irak dan Suriah. Ia sempat dipukuli ketika diusir dari bandara Baghdad oleh sekutu lokal dari Unit Mobilisasi Populer (PMU).

Memang Jenderal Suleimani secara aktif merencanakan menyerang diplomat Amerika di Irak dan di seluruh wilayah itu. Pentagon berkilah, serangan bertujuan untuk menghalangi rencana serangan Iran di masa depan.

"Amerika Serikat melindungi orang-orang kami dan kepentingan kami di mana pun mereka berada di seluruh dunia," kata Pentagon.

Beberapa menit sebelumnya, Presiden Trump mengupload bendera AS tanpa komentar. Kemudian, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan yang mengatakan, "Tindakan tegas diambil atas arahan presiden".

Iran pun tak tinggal diam. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, memerintahkan tiga hari berkabung dan bersumpah, AS akan menghadapi "balas dendam berat" atas pembunuhan itu.

Dipastikan, kematian Suleimani membuka babak baru yang mengerikan di Timur Tengah.

Warga Iran langsung menggelar demo di depan Kedutaan AS. 

.

Dalam karir militernya yang panjang, Qassem Suleimani meninggalkan Timur Tengah penuh dengan mayat, dan sekarang dia menyusul.

Kematiannya diduga bisa menutup satu babak mengerikan dalam konflik yang tak berkesudahan di kawasan itu, tetapi akan membuka babak baru yang diduga lebih buruk dan mengerikan.

Memang, dalam putaran terakhir perang proksi di Irak, seorang kontraktor Amerika tewas dalam serangan roket pada hari Jumat. Ini memicu serangan udara pembalasan terhadap kamp-kamp milisi yang didukung Iran. Lalu, Iran membalas dengan penyerangan kompleks kedutaan besar AS oleh milisi pro-Iran, di mana tidak ada yang terluka.

Pemimpin pasukan Pengawal Revolusi Quds adalah ikon Republik Islam, bisa dibilang tokoh terkuat kedua setelah pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei.

Membunuhnya adalah tindakan menggali kapak perang. Setengah juta pasukan Iran, adalah kekuatan militer paling kuat yang telah dihadapi AS sejak menghadapi Tentara Relawan Rakyat China lebih dari 60 tahun yang lalu di Korea.

Tidak ada yang tak terhindarkan dari konflik ini. Enam tahun lalu, warisan kebencian yang ditinggalkan oleh Revolusi Islam mulai memudar. Ada perjanjian multilateral untuk mengekang program nuklir Iran pada 2015, dan pakta non-agresi bersama yang tak terucapkan dengan Suleimani selama kampanye bersama melawan Negara Islam di Suriah dan Irak.

"Untuk sementara waktu ketika kami melakukan operasi kontra-Isis, kami pada dasarnya memiliki perjanjian dengan seorang pria, bahwa pasukannya tidak akan menargetkan kami dan kami tidak akan menargetkan dia," kata Kirsten Fontenrose, mantan direktur senior untuk Gulf. di dewan keamanan nasional Trump.

Mobil Jendral Suleimani yang hancur, di luar bandara Baghdad

.

Tetapi dengan dibatalkannya Trump dari perjanjian nuklir 2015 dan runtuhnya kekhalifahan ISIS, yang sebagian besar menghilangkan musuh bersama, Suleimani muncul sebagai musuh bebuyutan AS. "Dia adalah target," kata Fontenrose.

Fontenrose, sekarang di Dewan Atlantik, meramalkan bahwa sementara milisi yang didukung Iran di Irak mungkin akan segera menyerang, sebagai pembalasan atas salah satu komandan utama mereka yang terbunuh bersama Suleimani, Teheran. Penyerangan akan menunggu dan memilih waktu, tempat, dan cara yang paling pas.

Iran akan sabar hingga bertahun-tahun mendatang, sebelum melakukan serangan mematikan. "Saya pikir mereka mungkin akan menyerang kita di bagian lain dunia, mungkin Afrika Barat, mungkin Amerika Latin untuk mengirim pesan bahwa mereka bisa membawa kita ke mana saja - kita seharusnya tidak pernah merasa aman," keluh dia.

"Kurasa kita tidak sedang melihat perang. Saya pikir kami sedang melihat serangkaian serangan semi-tak terduga yang asimetris terhadap kepentingan satu sama lain."

 

sumber : thesun, theguardian